Friday, August 31, 2012

Wisata Museum Tsunami Aceh

Wisata Museum Tsunami Aceh

Bencana tsunami 26 Desember 2004 menyisakan trauma yang sulit untuk dilupakan bagi rakyat Aceh. Bagaimana tidak, ratusan ribu jiwa melayang dalam sekejap disapu ombak pantai yang menggulung. Tsunami di pantai barat Aceh meluluh-lantakkan hampir seluruh kota Banda Aceh dan Meulaboh.

Tujuh tahun sudah setelah bencana berlalu, ketika saya berkesempatan berkunjung ke tanah rencong ini, tepatnya akhir November tahun lalu. Meski sudah kembali pulih, tapi sisa-sisa tsunami masih terasa. Mendengar cerita orang-orang yang menjadi saksi hidup tsunami membuat kita tidak sanggup berkata apa-apa. Jejak-jejak tsunami dapat kita lihat saat melewati beberapa tempat yang menjadi saksi bisu seperti kuburan massal korban tsunami Aceh, taman tsunami, mesjid-mesjid yang selamat dari bencana tsunami dan museum Tsunami.
Museum Tsunami sengaja dibangun oleh pemerintah untuk mengenang terjadinya bencana tsunami yang melanda wilayah Aceh dan Samudera Hindia tahun 2004. Museum yang dirancang oleh arsitek Indonesia ini bangunannya megah dan kokoh. Tempat ini sekaligus dijadikan pembelajaran dan evakuasi saat terjadi bencana. Di museum ini memang disajikan rekam jejak tsunami dalam berbagai media seperti audiovisual, photo slide, foto-foto dan alat peraga tsunami.
Di luar museum, dapat kita temukan salah satu saksi bisu tsunami yaitu helikopter milik Polda yang tidak sempat terbang karena keburu disambar air laut. Akibatnya helikopter sempat terendam air dan sebagian menjadi hancur.
Memasuki museum akan membawa kita menyaksikan jejak-jejak minimalis terjadinya bencana tsunami 7 tahun-an silam. Sesaat setelah melewati pintu masuk, kita akan melewati lorong dengan air mengalir di dinding-dindingnya yang memerciki setiap yang lewat di lorong itu. Suasana agak mencekam karena jalannya dibuat agak menanjak dan redup. Karena baru pertama kali ke sana, waktu itu saya agak cemas dan malah berpikir apa nanti bakal dikejutkan dengan simulasi tsunami di lorong ini. Untunglah tidak hehe.
Lebih ke dalam lagi, kita akan memasuki ruangan kosong melingkar dimana di dindingnya terdapat nama-nama korban tsunami yang berhasil diidentifikasi. Nama-nama ditulis di seluruh dindingnya. Bagian tengah meninggi ke atas membentuk cerobong yang bertuliskan nama Allah dalam tulisan arab, sayapun harus mendongak untuk bisa memotretnya. Di ruangan itu terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang mengingatkan kita akan kebesaran Sang Pencipta.
Setelah itu kita kembali melewati lorong yang menanjak tetapi lebih terang dan tidak ada air yang memercik di dinding-dindingnya. Desain museum ini memang unik dan sarat akan arti serta makna kejadian tertentu. Banyak lorong-lorong tangganya yang dibuat unik. Untuk naik ke lantai selanjutnya akan melewati jembatan menanjak yang disebut jembatan perdamaian. Di bawahnya terdapat air dan membentuk seperti kolam, sedangkan bagian atasnya banyak terdapat bendera-bendera dari berbagai negara yang telah memberikan sumbangan saat terjadi bencana. Di situ tertulis kata ‘damai’ dalam berbagai bahasa.
Saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk menonton VCD bencana tsunami di ruang audiovisual. Waktu itu ada juga orang asing yang menonton berbarengan dengan saya dan teman-teman. Salah satu isi video menampilkan rekaman dari kamera amatir saat kejadian tsunami. Meskipun saya tidak mengalami kejadiannya secara langsung, film yang diputar membuat suasana hati menjadi terhanyut. Apalagi mengingat cerita-cerita para korban selamat dimana mereka banyak yang kehilangan sanak keluarganya. Sedih sekali mendengarnya, pokoknya speachless deh. Tiba-tiba ingatanpun melayang pada kisah Nabi Nuh yang pernah saya dengar.
Di ruangan lain, kita bisa melihat poster-poster tentang Aceh dan bencana tsunami yang dipajang dalam stand poster. Semua bisa menggambarkan Aceh sebelum maupun sesudah terjadinya tsunami. Beberapa poster ada yang saya potret secara close-up. Di situ ada foto jam milik Mesjid Baiturrahman dengan latar belakang bangunan yang porak-poranda. Jam ini berhenti di angka 8 lewat 17 menit, dimana menunjukkan waktu terjadinya tsunami. Di poster yang lain juga terdapat informasi wilayah yang menjadi pusat gempa di Aceh dan kawasan Samudera Hindia. Saat bencana terjadi, memang korban baik harta maupun jiwa terbanyak terdapat di Aceh.
Di ruangan lain terdapat miniatur bangunan yang selamat dari bencana tsunami seperti Mesjid Lampisang di Lampuuk serta kapal pembangkit listrik yang terdampar di Punge karena terbawa ombak laut sejauh 6-7 km. Tempat-tempat tersebut yang asli saat ini masih dapat dijumpai dan dijadikan sebagai situs tsunami.
Pengunjung di museum tsunami ini juga bisa mencoba simulasi terjadinya guncangan gempa bumi, tetapi sayangnya saya tidak bisa mencobanya karena pada saat berkunjung ke sana tempat itu sedang direnovasi.
Museum tsunami memang menarik dan sarat akan pembelajaran. Tempat ini bisa menjadi salah satu tujuan wisata jika berkunjung ke Aceh, berwisata sekaligus belajar. Jejak-jejak minimalis tsunami di museum ini menjadi pengingat bahwa pernah terjadi musibah besar yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh. Dan betapa kecil dan lemahnya kita di hadapan Sang Pencipta. Semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya.

dari: http://hezzoinfo.wordpress.com/2012/06/25/wisata-museum-tsunami-banda-aceh/

Wednesday, August 29, 2012

Pulau Bangkaru, Pulau seribu penyu

Pulau Bangkaru, Pulau seribu penyu

Kepulauan Banyak adalah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil.Untuk mencapai Pulau Bengkaru, setiap orang harus menuju Singkil terlebih dahulu. Perjalanan dari Medan bisa ditempuh dengan angkutan umum sekitar 8 jam. Ada juga Nusa Buana Air yang menyediakan penerbangan ke Singkil, tapi hanya 2 kali seminggu, Sabtu dan Senin pagi. Dan setiap pengunjung diwajibkan mengkonfirmasi terlebih dahulu ke Yayasan Pulau Banyak (YPB).



Tahun 2006, Maggie Muurmans, seorang ahli penyu dari Belanda dan Mahmud Bengkaru menghidupkan kembali Yayasan Pulau Banyak yang sempat mati suri akibat tsunami dan konflik berkepanjangan di bumi Aceh Darusalam. Dengan menggaet beberapa rekan kerja baru dan didukung LSM Yayasan Eko Lestari (YEL) yang berbasis di Medan dan Paneco –salah satu LSM berbasis di Swiss, mereka menggiatkan kembali kegiatan konservasi penyu dan ekowisata di pulau Bengkaru.



Tujuannya tidak lain untuk menjaga dan melestarikan kehidupan penyu hijau yang diambang kepunahan akibat terjaring nelayan, perdagangan telur penyu, para pengkonsumsi daging penyu, dan orang-orang yang menjadikan penyu sebagai hiasan/cinderamata. Belum lagi ulah manusia yang membuang sampah ke laut seperti gabus atau plastik yang mengakibatkan kematian bila termakan oleh tukik (anak penyu).

Untuk mencegah kepunahan tersebutlah, organisasi ini memberikan penyuluhan kepada masyarakat, mengadakan workshop, pertemuan dengan tokoh masyarakat hingga membuat program pendidikan di sekolah untuk melestarikan sumber daya alam sekitar. Selain itu mereka juga menyediakan tempat bagi mahasiswa lokal maupun internasional untuk melakukan penelitian di pulau tersebut sebagai sukarelawan.

Masuk ke pulau konservasi penyu ini dikenakan biaya karena termasuk wilayah konservasi. Biayanya biasanya per paket. Termasuk dalam paket ini menginap 3 hari 2 malam, makan 3 kali sehari, dan transportasi antar jemput. Kesempatan 3 hari 2 malam tersebut diberikan agar mendapat kesempatan melakukan patroli penyu di malam hari.

Penyu yang singgah di pulau ini biasanya penyu hijau, tapi bila sedang musim, penyu sisik dan penyu belimbing, yang disebut 'nenek moyangnya penyu' juga kerap mampir. Satu keberuntungan yang luar biasa bila Anda bisa bertemu dengan penyu belimbing ini.

Biasanya, patroli dilakukan setelah makan malam, sekitar pukul 8 malam. Sepatu, senter, dan jaket merupakan peralatan yang wajib dibawa. Dan yang tidak boleh lupa, snack dan air minum tentunya. Kalau sampai lupa membawanya, dijamin waktu menunggu terasa semakin lama karena yang bisa dilakukan disana hanyalah menunggu dan menunggu.

Saat tiba di Pantai Penyu/pantai Amandangan pun senter harus dimatikan, karena penyu sangat sensitif terhadap cahaya. Mereka bisa mengurungkan niatnya untuk mampir jika melihat cahaya dari arah pantai. Kalau cukup beruntung, kita bisa melihat hingga 5 ekor penyu hijau dari 7 penyu yang singgah. Jika sedang musim (November- Maret) patroli bisa dilakukan 2 shift hingga pagi.

Di sini pula petugas berkesempatan memberi tagging. Tag ini bertuliskan nomor sehingga memudahkan pendataan apabila penyu ini kembali ke pantai Amandangan. Tagging ini juga memberi informasi batas terendah dari populasinya. Informasi ini akan menolong melindungi penyu. Selain diberi tagging, penyu ini juga didata, diukur panjang lebarnya, penyu yang ke berapa singgah ke pantai, apa yang ia lakukan, dan jumlah telurnya. Bagi penyu belimbing, micro chip diimplant agar memudahkan pengidentifikasian di negara-negara lain yang disinggahinya seperti Madagaskar dan India.

Seekor penyu hijau bisa mencapai panjang 80-90 cm dengan lebar 70-80 cm. Lain halnya dengan penyu belimbing yang bisa mencapai panjang hampir 2 meter. Penyu dalam 1 periode ( 2 minggu) bisa singgah di pantai 4 sampai 6 kali. Tidak di setiap persinggahan penyu-penyu ini bertelur, biasa hanya 2 kali persinggahan. Penyu bertelur setelah usia 25 tahun dan sekali bertelur bisa menelurkan 100-150 butir telur. Dari sekian banyak telur yang menetas, tidak semua bertahan hidup. Biasa hanya 2-3 ekor yang bertahan.



Banyak faktor yang mengakibatkan tukik- tukik ini tidak bisa bertahan. Faktor tangan manusia, faktor alam, seperti biawak yang memakan tukik ketika berjalan menuju pantai, kepiting yang membunuh di pinggiran pantai, ikan kerapu dan ikan hiu yang menjadi predator di laut, dan juga faktor alam menjadi penyebabnya. Nah, fungsi petugas YPB inilah menjaga tukik-tukik yang menuju ke pantai dari serangan biawak, elang ataupun kepiting.

Biasanya tukik menetas di pagi hari. Di Bengkaru ini Anda bisa melihat tukik-tukik keluar dari sarangnya, berjalan berlomba menuju laut lepas. Menariknya, anak- anak penyu ini adalah penyu- penyu liar, bukan dari penangkaran. Sungguh pemandangan luar biasa.

Sumber/Editor: Fazaris Tanti - Pulau Banyak

diambil dari: http://acehdalamsejarah.blogspot.com/2011/07/pulau-bangkaru-pulau-seribu-penyu.html

Tuesday, August 28, 2012

Tentang Aceh

Tentang Aceh

Peta Aceh

Aceh yang sebelumnya pernah disebut dengan nama Daerah Istimewa Aceh (1959-2001) dan Nanggroe Aceh Darussalam (2001-2009) adalah sebuah provinsi di Indonesia dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Aceh memiliki otonomi yang diatur tersendiri, berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, karena alasan sejarah. Daerah ini berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan.