Sunday, June 12, 2016

Aceh, Keduri Tanpa Terikat Waktu

Aceh, Keduri Tanpa Terikat Waktu

http://fokusaceh.blogspot.com/2013/04/aceh-keduri-tanpa-terikat-waktu.htmlAsoelhok ~ Kenduri tak mengenal musim di Aceh. Bahkan, di kala perang, kenduri tetap berjalan. Begitulah, lewat kenduri orang Aceh saling mengikatkan diri.

Aroma kenduri Maulid tercium di awal pagi di Desa Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, pertengahan Februari lalu. Lepas subuh, Aisyah (51) dan Mardianah (38) sibuk menyiapkan aneka masakan yang akan dibawa ke meunasah (musala) tempat kenduri berlangsung. Tangan mereka cekatan membungkus nasi berbentuk kerucut dengan daun pisang batu.
Keripik, Oleh-oleh Bireuen

Keripik, Oleh-oleh Bireuen

Penjual Keripik Bireuen
Keripik pisang yang diolah dari pisang monyet dan pisang kepok itu disajikan dengan rasa manis dan asin. Sedangkan keripik ubi punya pilihan rasa original, rasa jagung, dan pedas. Sementara keripik sukun digoreng dengan satu rasa yaitu rasa original. Semua jenis keripik itu dijual di kios yang dibangun berderetan di kiri dan kanan jalan mulai dari kawasan Cot Gapu sampai ke Cot Keutapang, Bireuen.
Nagasari (Cipuga), Kuliner Jajanan Khas Kabupaten Bireuen

Nagasari (Cipuga), Kuliner Jajanan Khas Kabupaten Bireuen

Nagasari Cipuga (sumber foto : tribunnews)
Kota Bireuen tak hanya dikenal dengan oleh-oleh khas keripik seperti keripik pisang, ubi, dan sukun. Tetapi juga penghasil nagasari yang cukup populer saat ini. Nagasari khas Bireuen mulai dibicarakan banyak kalangan, terutama para tamu yang singgah sejenak ke Kota Juang itu, baik dari Jakarta, Medan, serta warga Aceh yang melintasi jalan nasional Banda Aceh – Medan.
Tidak sulit menemukan kue yang dibalut daun pisang itu. Mereka tersusun di atas meja sepanjang gerai kue di depan terminal Bireuen, tepatnya di Jalan Letda Ishak Ibrahim (sebelumnya Jalan Pasar Ikan Lama). Pemandangan yang memikat hati untuk segera mencicipinya. Aroma bungkusannya pun cukup kentara.