Showing posts with label tokoh. Show all posts
Showing posts with label tokoh. Show all posts

Tuesday, April 19, 2016

Mengupas Jejak Perjuangan Hasan Tiro

Mengupas Jejak Perjuangan Hasan Tiro

“...Saya akan merasa gagal jika tidak mampu mewujudkan hal ini, harta dan kekuasaan bukanlah tujuan hidup saya dan bukan pula tujuan perjuangan ini. Saya hanya ingin rakyat Aceh makmur sejahtera dan bisa mengatur dirinya sendiri...” 

Buku setebal 266 halaman itu ditulis Hasan Tiro selama enam tahun bergerilya di rimba Aceh. Pertama kali ia pulang ke Aceh pada Sabtu, 30 Oktober 1976. Hari itu ia tiba di Kuala Tari, Pasi Lhok, Sebuah desa nelayan, Kabupaten Pidie sekitar pukul 08.30 pagi, setelah 25 tahun menetap di Amerika. Dari tempat itu dia melanjutkan perjalanan ke arah timur.

Tuesday, April 5, 2016

P.RAMLEE PERMATA ACEH DI NEGERI JIRAN

P.RAMLEE PERMATA ACEH DI NEGERI JIRAN

Siapa sangka, P. Ramlee alias Teuku Zakaria Teuku Nyak Puteh yang merupakan seorang penyanyi, musisi, aktor kawakan, dan sutradara film Malaysia adalah seorang bangsawan yang di dalam dirinya mengalir ‘darah biru’ seorang pelaut kawakan Aceh, Teuku Nyak Puteh Teuku Karim.
***



Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh atau lebih populer P. Ramlee (seniman) dilahirkan pada hari Rabu 22 Maret 1929 (lahir waktu pagi hari lebaran-red) di Pulau Pinang, Malaysia. Bapaknya, Teuku Nyak Puteh adalah seorang ahli pelayaran yang berasal dari Lhokseumawe. Ibunya bernama Che Mah Hussin berasal dari Kubang Buaya, Butterworth, Malaysia. Penggunaan inisial "P" pada awal namanya diambil dari nama bapaknya Puteh, ketika ia mengikuti lomba menyanyi di Pulau Pinang pada tahun 1947. Sejak saat itu, inisial "P" terus melekat pada namanya hingga akhir hayat. Bakat P. Ramlee di bidang seni, khususnya seni peran dan seni suara sudah ada pada dirinya sejak ia masih kecil.


Ayah P. Ramlee, Teuku Nyak Puteh Teuku Karim yang berasal dari Lhokseumawe ini merupakan seorang pelaut kawakan Aceh yang merantau ke Malaysia dan menetap di Pulau Penang. Hingga pada tahun 1925, di Kubang Buaya, Butterwort, Malaysia, pelaut Aceh yang gagah perkasa itu menikahi Che Mah Hussein, dara jelita yang bermukim di Kubang Buaya, Butterwort (tempat penyeberangan ferry ke Pulau Penang dari Kedah Darulaman, Malaysia-red).

Pencipta dan pelantun lagu berirama rancak ini menjadi yatim setelah sang ayah, Teuku Nyak Puteh meninggal dunia pada tahun 1955 dan menjadi piatu 12 tahun kemudian sang bunda, Che Mah Hussein juga menyusul sang ayah, setelah sebelumnya ‘menghadiahkan’ P. Ramlee seorang adik tiri (lain ayah dan seibu) yang bernama Syeikh Ali.

Lima tahun sebelum ayahnya meninggal, pelakon film Pendekar Bujang Lapok ini menikahi Junaidah Daeng Harris yang juga berdarah Aceh pada tahun 1950. Dari buah perkawinannya yang hanya berusia 4 tahun itu, pria berkulit hitam manis dan perokok berat ini dianugerahkan dua orang putra yaitu Mohd. Nasir P. Ramlee dan Arfan P. Ramlee kedua putranya itu terpaut usia satu tahun (Mohd. Nasir lahir 1953, Arfan lahir pada tahun 1954).

Pria penyayang ini mempunyai 10 orang anak, 2 orang anak kandung (dari perkawinannya dengan Junaidah), 3 orang anak tiri dari 3 istrinya yaitu Junaidah, Noorizan, dan Saloma, serta 4 orang anak angkat. Delapan orang anaknya yang lain selain Mohd. Nasir dan Arfan yaitu Sazali, Abdul Rahman, Norma, Armali, Betty, Zakiah, Sabaruddin dan Dian.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh P. Ramlee dimulai dari Sekolah Melayu Kampung Jawa, kemudian meneruskan ke sekolah Francis Light sampai kelas lima. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke Penang Free School hingga kelas tujuh. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia juga pernah masuk di sekolah Kaigun (sekolah tentara laut Jepang).

Kecintaan P. Ramlee pada seni musik dan seni suara (penyanyi) mendorongnya untuk giat belajar musik. Berawal dari bermain ukelele, kemudian ia beralih belajar gitar dan biola pada Encik Kamaruddin (pemimpin Brass Band di Penang Free School). Kemudian, untuk mengembangkan bakatnya, ia bergabung dalam orkes Teruna Bintang dan Sinaran Bintang Sore. Sejak itu, ia sering memenangi berbagai lomba tarik suara, di antaranya Juara III (1945) dan Juara II sekaligus terpilih sebagai Bintang Penyanyi Utama Malaya (1947) dalam lomba tarik suara yang diselenggarakan oleh Radio Pulau Pinang

Keterlibatan P. Ramlee dalam seni peran berawal, ketika ia diundang untuk memeriahkan sebuah Pesta Pertanian Ria di Bukit Mertajam pada tanggal 1 Juni 1948. Dalam pesta itu, ia menyanyikan sebuah lagu ciptaannya sendiri berjudul Azizah. B.S. Rajhans, seorang pengarah film dari Shaw Brothers Singapura juga hadir dalam acara tersebut, dan kebetulan sedang mencari penyanyi berbakat. Setelah mendengar lagu persembahan P. Ramlee, Rajhans menawarkan padanya untuk menjadi penyanyi latar dalam film-film yang akan diarahkannya. Kemudian, pada tanggal 8 Agustus 1948, P. Ramlee pun berangkat ke Singapura dengan menumpang kereta api. Di Singapura, ia belajar dan mengembangkan bakatnya di bidang seni peran dan seni suara di Studio Malay Film Productions.

Karena kecintaannya dalam dunia film, P. Ramlee mampu melakukan berbagai macam pekerjaan maupun peran. Ia pernah menjadi clepper boy, pembantu jurukamera, menjaga continuity, dan sebagai penyanyi latar. Khusus dalam seni peran, ia mampu memerankan berbagai watak (karakter) misalnya, dalam film pertamanya yang berjudul Cinta, memerankan karakter penjahat (1948); dalam film Nur Asmara dan Nasib bersama D. Harris memerankan karakter lucu (komedi); dan dalam film Bakti memerankan karakter hero (pahlawan). Selain itu, ia adalah bintang film pertama yang bisa menyanyi tanpa menggunakan penyanyi latar.

Sejak tahun 1948 hingga 1955, keaktoran P. Ramlee di dunia perfilman terus berkembang dan telah membintangi 27 buah judul film. Datuk L. Krishnan (pengarah/sutradara film Melayu terkenal pada tahun 50-an dan 60-an) adalah salah seorang guru P. Ramlee yang senantiasa memberikan motivasi agar selalu belajar berakting. Selain Krishnan, ia juga banyak dipengaruhi oleh karya sutradara-sutradara asing, seperti Akira Kurosawa dari Jepang dan Satyajit Rai dari India. Sementara gaya lakon (akting) P. Ramlee banyak terinspirasi dari dua aktor terkenal India Selatan, yaitu MGR dan Sivaji Ganesan. Kepiawaiannya dalam berakting juga banyak dipengaruhi teman mainnya sesama aktor handal, seperti Nordin Ahmad, Saadiah, A.Rahim, Daeng Idris, Normadiah dan lain-lain.



Setelah membintangi film terakhirnya yang berjudul Hang Tuah tahun 1955, P. Ramlee beralih menjadi pengarah atau sutradara film. Film pertama yang disutradarai berjudul Penarik Becak (1955), dan setahun kemudian (1956), ia menyutradarai lagi filmnya yang kedua berjudul Semerah Padi. Film-film arahannya tersebut senantiasa menuai sukses, disamping karena teknik pengambilan gambar (trick-short) dan drama yang baik, juga karena penuh dengan unsur-unsur budaya dan agama. Selain itu, P. Ramlee juga telah melakukan berbagai pembaharuan, baik dari segi teknik, arahan, maupun seni aktingnya.

Setelah sukses membintangi dan mengarah beberapa film di Singapura, P. Ramlee pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia, untuk bekerja di Studio Merdeka di Ulu Kelang. Selama 9 tahun di studio tersebut, ia berhasil mengeluarkan 18 buah film, menciptakan serta menyanyikan lagu-lagu dalam film sebanyak 60 buah. Dalam proses penciptaan lagu, ia banyak dibantu oleh rekan-rekannya, seperti S. Sudarji, Jamil Sulong, H. M. Rohizad, Ainol dan sebagainya. Tidak diketahui secara tepat, berapa jumlah lagu yang telah diciptakannya, yang pasti dikenali masyarakat seniman kira-kira berjumlah 250 buah.

Selain sebagai aktor dan pengarah film, P. Ramlee juga aktif dalam berbagai bidang organisasi, di antaranya Persatuan Artis-artis Malaya (PERSAMA), Kumpulan Musik PANCA SITARA, Pasukan Badminton (SEKAWAN BINTANG), dan Sepak Takraw (SANGGA BUANA). Disamping itu, ia juga pernah mengadu nasib di bidang perdagangan dengan menerbitkan majalah hiburan Bintang dan majalah Gelanggang Films. Bersama rekan-rekannya, ia pernah mendirikan dua buah perkumpulan film, yaitu Perusahaan Film Malaysia (PERFIMA) dan SAZARA Film Company. P. Ramlee juga sering diundang dalam forum-forum penting, di antaranya dalam Kongres Bahasa dan Persuratan Melayu Ketiga di Singapura dan di Johor Bahru (1956), dan Kongres Kebudayaan Kebangsaan di Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1971). Semasa hidupnya, ia pernah berkunjung ke beberapa negara, di antaranya Indonesia, Hong Kong, Manila dan Tokyo. Film terakhir yang dibintangi sebelum ia menghembuskan nafas terakhir berjudul Laksamana Do Re Mi tahun 1972, sedangkan lagu dan lirik terakhirnya berjudul Ayer Mata di Kuala Lumpur pada tahun 1973.

P. Ramlee meninggal dunia pada tanggal 29 Mei 1973 dalam usia 44 tahun, akibat serangan jantung. Jenazahnya dimakamkan di Tanah Perkuburan Islam, Jalan Ampang Kuala Lumpur, Malaysia. Ia meninggalkan sebuah rumah yang berada di jalan Depap yang telah dijadikan Pustaka Peringatan P.Ramlee pada tahun 1986. Selain itu, namanya telah diabadikan sebagai nama jalan di Pusat Bandar Raya Kuala Lumpur menjadi Jalan P. Ramlee (yang dulunya bernama Jalan Parry) pada tahun 1982. Sepanjang hidupnya, ia telah tiga kali menikah, yaitu Junaidah anak pelawak D. Harris (istri pertama, 1948), Norizan bekas isteri Sultan Perak (istri kedua, 1955), dan Salmah Ismail atau Saloma (istri ketiga, 1961).

Karya-karya

Sebagai seniman film dan musik, P.Ramlee telah melahirkan banyak karya film dan lagu, di antaranya:
Film-film yang dibintangi P. Ramlee:
1. Abu Hassan Penchuri (1955)
2. Ahmad Albab (1968)
3. Ali Baba Bujang Lapok (1961)
4. Aloha (1950)
5. Anak Bapak (1968)
6. Anak-ku Sazali (1956)
7. Anjoran Nasib (1952)
8. Antara Dua Darjat (1960)
9. Antara Senyum Dan Tangis (1952)
10. Bakti (1950)
11. Bujang Lapok (1957)
12. Bukan Salah Ibu Mengandung (1969)
13. Chinta, film pertama (1948)
14. Dajal Suchi (1965)
15. Di Belakang Tabir (1969)
16. Do Re Mi (1966)
17. Doktor Rushdi (1970)
18. Enam Jahanam (1969)
19. Gelora (1970)
20. Gerimis (1968)
21. Hang Tuah (1956)
22. Hujan Panas (1953)
23. Ibu / Mother (1953)
24. Ibu Mertua Ku (1962)
25. Jangan Tinggal Daku (1971)
26. Juwita (1951)
27. Kanchan Tirana (1969)
28. Keluarga 69 (1967)
29. Labu Dan Labi (1962)
30. Laksemana Do Re Mi, film terakhir (1972)
31. Love Parade (1963)
32. Madu Tiga (1964)
33. Masam Masam Manis (1965)
34. Melanchong Ke Tokyo (1964)
35. Merana (1954)
36. Miskin (1952)
37. Musang Berjanggut (1959)
38. Nasib (1949)
39. Nasib Do Re Mi (1966)
40. Nasib Si Labu Labi (1963)
41. Nilam (1949)
42. Noor Asmara (1949)
43. Nujum Pak Belalang (1959)
44. Pancha Delima (1957)
45. Panggilan Pulau (1954)
46. Patah Hati (1952)
47. Penarek Becha (1955)
48. Pendekar Bujang Lapok (1959)
49. Penghidupan (1951)
50. Perjodohan (1954)
51. Putus Harapan (1953)
52. Putus Sudah Kaseh Sayang (1971)
53. Rachun Dunia (1950)
54. Ragam P Ramlee & Damaq (1964)
55. Sabarudin Tukang Kasut (1966)
56. Se Merah Padi (1956)
57. Sedarah (1952)
58. Sejoli (1951)
59. Seniman Bujang Lapok (1961)
60. Sergeant Hassan (1958)
61. Sesudah Suboh (1967)
62. Siapa Salah (1953)
63. Sitora Harimau Jadian (1964)
64. Sumpah Orang Minyak (1958)
65. Takdir Illahi (1950)
66. Tiga Abdul (1964)
Lagu-lagu P. Ramlee bersama Saloma:
1. Aci Aci Buka Pintu
2. Aduh Sayang
3. Aduhai Sayang
4. Ahmad Albab
5. Ai Ai Twist
6. Aku Bermimpi
7. Aku Debuk
8. Aku Menangis
9. Aku Tak Berdaya
10. Aku Terpesona
11. Ala Payong
12. Alam
13. Alam Di Tiup Bayu
14. Alam Maya
15. Alangkah Indah Di Waktu Pagi
16. Alhamdulillah
17. Ali Baba Rock
18. Alunan Biola
19. Anak-ku Sazali
20. Aneka Ragam
21. Angin Malam
22. Apa Guna Berjanji
23. Apabila Kau Tersenyum
24. Apek Dan Marjina
25. Asmara Bergelora
26. Asmara Datang Bersama Sang Bulan
27. Asmara Murni
28. Assalamualaikum
29. Awan Mendung Telah Tiba
30. Awas-awas Jangan Tertawan
31. Ayam Ayam
32. Ayer Mata
33. Ayer Mata Di Kuala Lumpur
34. Azizah
35. Bahagia
36. Bahtera Karam
37. Baidah
38. Barang Yang Lepas Jangan Di Kenang
39. Bawah Rumpunan Bambu
40. Bayangan Wajahmu
41. Beginilah Nasib
42. Belantara
43. Berdendang Ria
44. Berhati Lara
45. Berkorban Apa Saja
46. Bermandi-manda
47. Berpedati
48. Bersama
49. Bertamasha
50. Betapa Riangnya
51. Biarlah Aku Pergi
52. Bila
53. Bila Mama Pakai Chelana
54. Bila Tiba Masa
55. Bintang Hati
56. Bintang Sore
57. Bubor Sagu
58. Budi Dibawa Mati
59. Bujang Merempat
60. Bulan Dan Juga Angin
61. Bulan Jatuh Ke Riba
62. Bulan Mengambang
63. Bumiku Ini
64. Bunga Mekar
65. Bunga Melor
66. Bunyi Gitar
67. Burung Pungok
68. Chemara Jingga
69. Chemburu
70. Chinta
71. Chinta Abadi
72. Choraknya Dunia
73. Cik Cik Keboom
74. Dalam Air Terbayang Wajah
75. Dari Hati Ke Hati
76. Dari Masa Hingga Masa
77. Debaran Jiwa
78. Dendang Perantau
79. Dengar Ini Cherita
80. Dengarlah Kemala Hati
81. Dengarlah Rayuanku
82. Dengarlah Sang Ombak Berdesir
83. Derita
84. Dewi Ilhamku
85. Dewi Puspitaku
86. Di Bibir Mu Terlukis Kata
87. Di Mana Kan Ku Chari Ganti
88. Di Mana Suara Burong Kenari
89. Di Pinggiran
90. Di Pulau
91. Dia Dan Aku
92. Di Renjis-renjis Di Pilis
93. Di Telan Pahit Di Buang Sayang
94. Do Re Mi
95. Duka Berganti Suka
96. Dunia Hanya Pinjaman
97. Dunia Ini Hanya Palsu
98. Embun Menitik
99. Engkau Laksana Bulan
100. Enjit Enjit Semut
101. Dll.
4. Penghargaan
Atas karya dan jasa-jasanya bagi dunia seni, P. Ramlee telah menerima sejumlah penghargaan, di antaranya:
1. Aktor Pria Terbaik, dalam film Anak-ku Sazali pada Festival Film Asia ke-4 di Tokyo (tahun 1957)
2. Award Fotografi Hitam Putih Terbaik pada Festival Film Asia.
3. Gelar Sargeant Titular dari Askar Melayu.
4. Film Komedi Terbaik, dalam film Bujang Lapuk pada http://www.blogger.com/img/blank.gifFestival Film Asia di Kuala Lumpur (tahun 1959).
5. Film Komedi Terbaik, dalam Film Nujum Pak Belalang pada Festival Film Asia ke-7 di Tokyo (tahun 1960).
6. Bintang Ahli Mangku Negara (AMN) dari DYMM Seri Paduka Baginda di Pertuan Agung Ketiga di Malaysia (tahun 1962).
7. Award Khas The Most Versatile Talent, dalam film Ibu Mertua Ku pada Festival Film Asia ke-10 di Tokyo (tahun 1963).
8. Film Komedi Terbaik, dalam film Madu Tiga pada Festival Film Asia ke-11 di Taipei (tahun 1964).
9. Pengubah Lagu Terbaik Se Asia pada Festival Film Asia di Hong Kong (1956).
10. Bintang Kebesaran Darjah Panglima Setia Mahkota dengan gelar Tan Sri dari Seri Paduka Baginda Yang di Pertuan Agung di Malaysia (tahun 1990).
Sumber : Atjeh Cyber Warrior
Raja Ubiet Raja Keumala - Tangse - Pidie

Raja Ubiet Raja Keumala - Tangse - Pidie

Raja Ubiet Baru Tahu Indonesia Merdeka Tahun 1980-an

Raja Ubiet adalah Raja Keumala di Tangse, Kabupaten Pidie yang pernah membawa pengikut dan keturunannya ke Gunung Itam di gugusan Bukit Barisan di Nagan Raya untuk menghindari kejaran penjajah Belanda. Mereka hidup secara tradisional mengandalkan kemurahan alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka hidup dalam peradaban yang nyaris tanpa sentuhan modernisasi.



Raja Ubiet lengkap dengan pakaian hitamnya

Saat ini, ada 50 kepala keluarga yang menempati 50 rumah di hulu Sungai Krueng Tripa di pegunungan itu. Mereka dipimpin Teuku Raja Keumala (50), keturunan langsung Raja Ubiet. Teuku Raja Keumala adalah raja tanpa mahkota dan kursi kerajaan di wilayah yang berbatasan dengan Aceh Tengah dan Pidie Jaya itu. Saking sederhananya, Teuku Raja Keumala kerap tampil berbusana hitam-hitam tanpa alas kaki dengan kepala dililit kain hitam.

Warga yang dipimpin Teuku Raja Keumala tak kalah tradisionalnya dan hidup alamiah di hutan rimba. Malahan hingga kini, ada warganya yang tidak makan garam, karena tidak turun gunung. Selain 50 rumah yang berada di pucuk Gunung Itam itu, komunitas turunan Raja Ubiet, yang sudah menikmati perubahan alias modernisasi, membuka pemukiman baru di Gunung Kong.

“Mereka turunan kesekian dari Raja Ubiet, ayah saya. Mereka turun gunung pada tahun 80-an, semasa gubernur Ibrahim Hasan,” ujar Teuku Raja Keumala dalam bahasa Aceh kental yang diterjemahi oleh Saifuddin Junaidi, 59 tahun, akhir pekan lalu.

Jarak tempuh dari Gunung Kong ke Pucuk Gunung Itam, memakan waktu dua hari dua malam berjalan kaki. Jalannya hanya setapak dan melintasi bebatuan juga hutan rimba.

Ironisnya, kehidupan warga pedalaman yang dulunya melarikan diri dari kejaran Belanda dari Keumala-Tangse, Pidie, ke pedalaman pucuk Gunung Itam, ini baru mengetahui kalau Indonesia merdeka, semasa Gubernur Ibrahim Hasan atau tepatnya tahun 1985. Kala itu, Ibrahim Hasan, meminta mereka untuk turun gunung.

Seusai bertemu gubernur, rumah bantuan pun diberikan, makanya sebagian komunitas keturunan Raja Ubiet, berada di Gunung Kong. Sebagian turunan kedua Raja Ubiet lainnya masih bertahan di pedalaman dan hidup apa adanya yang bersumber dari hutan. “Kami menanam pisang, ketela, singkong, durian, dan juga padi, untuk makan sehari-hari,” tukas Teuku Raja Keumala, anak kelima dari Raja Ubiet.

Diakuinya, pendatang yang berkunjung ke pemukiman di Pucuk Gunung Itam, tetap harus beradaptasi dengan warga setempat. Misalnya, lanjutnya, pakaian tamu harus berwarna hitam-hitam dan tidak boleh pakaian yang menyerupai penjajah Belanda yang dinilainya ‘kafir’.

Tidak boleh memakai topi juga tanpa alas kaki. Pengharusan ini, ujarnya, dikarenakan menghormati kebiasaan mereka sejak zaman penjajahan Belanda, tempo dulu. Kebaisaan tersebut, terbawa hingga kini, kecuali komunitas turunan yanga berada di Gunung Kong.

Dia bilang, kaum perempuan pun juga mengenakan busana serba hitam dan memakai celana panjang seperti yang dikenakan Cut Nyak Dhien, pahlawan nasional Aceh. hanya saja, celananya serba longgar begitu juga bajunya. Diakuinya lagi, pakaian mereka dijahit menggunakan tangan dan benangnya yang diolah dari benang nenas. Sementara, kainnya di pesan dari pasar melalui kurir sejak zaman penjajahan dulu.

Ia pun mengisahkan, Raja Ubiet dulunya tidak mau menyerah atau takluk kepada Belanda, makanya mereka sekeluarga lari ke gunung. Tak sampai di situ, diperjalanan mereka tetap dikejar dan berakhir di Pucuk Gunung Itam, sisanya ke gunung lainnya. Saat di kejar itu, mereka membuang semua alasa kaki, sehingga tidak mudah diendus jejaknya.

Begitu juga, terangnya, pakaian warna warni ikut mereka tanggalkan, karena dianggap memudahkan pihak Belanda menemukan mereka. Alhasil, hingga kini mengenakan pakaian serba hitam dan tanpa alas kaki, meski ke kota sekalipun. Kecuali, komunitas yang berada di Gunung Kong, sudah pakai alas kaki dan juga pakaiannya berwarna-warni.

Kebencian terhadap penjajah itulah, ujar Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar, makanya siapapun yang berkunjung ke Pucuk Gunung Itam, tampilannya tidak boleh menyerupai ‘kafir’. Lagipula, ujar Nazar, hingga kini mereka belum mau menerima kemajuan tekhnologi, sehingga tidak ada televisi, apalagi handphone, di sana.

Selain itu, tingkat kewaspadaan mereka masih tetap tinggi dan berbekas hingga saat ini. Pandangan matanya lebih sering ditujukan ke bawah, namun ekor matanya kerap mengawasi, seolah dalam kesiap-siagaan penuh alias penuh kecurigaan terhadap orang asing. Meski Indonesia telah merdeka 60-an tahun lebih, namun, keturunan Raja Ubiet, masih ada rasa ketakutan kalau-kalau Belanda kembali mengejar mereka.

Tak pelak lagi, ada diantara warga di Pucuk Gunung Itam, ini yang berbulan-bulan tidak menikmati rasanya garam atau pun manisnya gula. Mereka biasa hidup dalam penderitaan di tengah hutan belantara, karena ketakutan tadi, lanjutnya.

Diungkapkan Wagub, Teuku Raja Keumala , baru tiga kali turun ke Ibukota Provinsi. Pertama kali, ketika diundang Gubernur Ibrahim Hasan tahun 1980-an, lalu, semasa konflik, dan ketiga ketika mengunjungi Wagup, ucapnya.

Muhammad Nazar menuturkan, pemerintah Aceh akan membantu kembali atau melanjutkan bantuan yang pernah dijanjikan untuk membangun rumah juga bantuan lainnya. hanya saja, pengembang sebelum ini, nakal, sehingga pembangunan rumah bantuan menjadi terlantar.

“Saya mengundang Teuku Raja Keumala, kemari, meminta kepadanya agar ikut mengawasi pembangunan bantuan rumah juga yang lainnya, supaya proyeknya berjalan lancar dan tidak ditinggalkan seperti yang lalu-lalu,” tukasnya.

Setelah berbicara panjang lebar dengan Wagub di ruang kerjanya. Wagub pun berkata kepada Teuku Raja Keumala, mau membelikan sepatu atau sandhttp://www.blogger.com/img/blank.gifal, untuknya. Sambil tersenyum simpul, Teuku Raja Keumala, mengiyakan tetapi setelah sampai di Pucuk Gunung Itam, akan dilepas kembali.

Ketika disinggung senjata yang masih mereka miliki? Teuku Raja Keumala mengungkapkan, mereka masih menyimpan pedang panjang, peninggalan semasa perang dulu. Jumlahnya pun termasuk banyak, begitu juga rencong.

Sedangkan pistol Aceh, telah diserahkan kepada Polsek setempat, ketika damai MoU Helsinki, lalu. Padahal, kata Wagub, pistol itu merupakan senjata orang Aceh dari abad ke 15 dan sangat disayangkan senjata zaman dulu itu, tidak diserahkan kembali ke museum.

Sumber : Pakarbisnisonline
TEUKU NYAK ARIEF ( 17 JULI 1899 - 4 MEI 1946 )

TEUKU NYAK ARIEF ( 17 JULI 1899 - 4 MEI 1946 )

Teuku Nyak Arief dilahirkan di Ulee Lheu (5 Km dari Kuta Raja, sekarang Banda Aceh) tepatnya pada tanggal 17 Juli 1899. Ayahnya bernama Teuku Nyak Banta, sedangkan ibunya bernama Cut Nyak Rayeuk. Kedudukan Ayah Teuku Nyak Arief adalah sebagai Panglima Sagi 26 Mukim (wilayah Aceh Besar). Teuku Nyak Arief merupakan anak yang ke 3 dari 5 bersaudara dua diantaranya laki-laki dan tiga perempuan, adapun saudara kandung Teuku Nyak Arief adalah sebagai berikut :

1. Cut Nyak Asmah.
2. Cut Nyak Mariah.
3. Teuku Nyak Arief.
4. Cut Nyak Samsiah.
5. Teuku Mohd. Yusuf.



Teuku Nyak Arief ketika masih kanak-kanak termasuk anak yang cerdas, berani dan mempunyai watak yang keras seperti Ayahnya. Beliau selalu menjadi pemimpin diantara teman-teman sepermainannya, baik dalam pergaulan maupun di sekolah.

Permainan sangat digemari oleh Teuku Nyak Arief adalah sepak bola yang merupakan sebagai bintang lapangan.

Setelah Teuku Nyak Arief menyelesaikan pendidikannya di sekolah dasar (SD) Kuta Raja (Banda Aceh), beliau melanjutkan pendidikannya di sekolah Raja (Kweekschool) Bukit Tinggi dan kemudian pada pamongpraja (OSVIA) di Serang (Banten). Sekolah ini khusus diadakan oleh Belanda untuk anak-anak Raja dan Bangsawan dari seluruh Indonesia.

Teuku Nyak Arief dikenal sebagai orator walaupun selalu berbicara seperlunya saja. Sangat gemar membaca terutama menyangkut politik dan pemerintahan serta mendalami pengetahuan Agama. Oleh sebab itu tidak mengherankan kalau dalam usia muda Beliau telah giat dalam pergerakan.

Kegiatannya antara lain ikut membawa Aceh ke dalam wadah persatuan Hindia (Nusantara/Indonesia) serta mencurahkan perhatian yang besar untuk peningkatan kesejahteraan Rakyat. Beliau diangkat menjadi ketua Nasional Indische Party (N.I.P) cabang Banda Aceh pada tahun 1919. Setahun kemudian (1920) Beliau menggantikan Ayahnya sebagai panglima sagi 26 Mukim. Kemudian di tahun 1927 Beliau diangkat menjadi anggota Dewan Rakyat (Volkraat) sampai dengan tahun 1931.

Teuku Nyak Arief merupakan salah seorang pendiri dan anggota dari fraksi Nasional di Dewan Rakyat yang diketuai oleh M.H. Thamrin. Dalam berbagai kesempatan yang diperolehnya ini Beliau banyak memberikan sumbangan dalam bentuk perjuangan politik baik untuk kesejahteraan rakyat maupun kemerdekaan.

Dalam menentang penjajahan Belanda di Aceh salah satu aksi yang pernah dilakukannya adalah memimpin gerakan dibawah tanah (tahun 1932). Diakhir kekuasaan pemerintahan Belanda di Aceh (awal tahun 1942) Beliau menuntut untuk diserahkan kekuasaan/pemerintahan kepada Beliau, tetapi karena tidak dikabulkan oleh Residen Aceh J. Pauw maka Beliau memberontak kepada pemerintah Hindia Belanda. Kolonel Gosenson memerintahkan KNIL/Marsose dapat dipukul mundur dan Beliau terhindar dari penangkapan dari penangkapan penembakan, walau dua kali berturut-turut kediaman Beliau di Lamnyong (Darussalam) diserang dengan kekerasan. Peristiwa tersebut sekaligus berarti pula bahwa Belanda mulai menarik diri dari Aceh Besar.

Jepang mendarat di Aceh pada tanggal 12 Maret 1942. berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari ini sudah melahirkan suatu momentum dalam sejarah Aceh khususnya dan sejarah Indonesia pada umumnya dimana kekuasaan penjajahan baru telah datang di Aceh dan sempat berkuasa selama 3,5 tahun.

Pendaratan Tentara Jepang di Ujong Batee, Teluk Balohan (Pulau Weh) dan Kuala Bugak Peureulak (Aceh Timur), disambut oleh rakyat dengan semangat persaudaraan sesuai dengan semboyan yang tiap malam yang didengungkan melalui pemancar radio Jepang bahwa mereka datang ke Indonesia untuk membebaskan saudaranya-saudaranya dari cengkraman penjajahan Belanda.

Kegembiraan Rakyat menyambut kedatangan Tentara Jepang tidak membuat mereka lupa daratan, setiap gerak-geriknya diikuti dengan teliti. Setiap langkah Jepang yang menguntungkan diterima dengan baik dan sebaliknya jika terjadi hal-hal yang mencurigakan segera dibuat perhitungan baik melalui meja perundingan oleh pemimpin- pemimpin mereka maupun melalui mata pedang sebagaimana yang telah dibuktikan oleh rakyat Aceh dalam perang Bayu di Aceh Utara pada bulan November 1942 yang dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil.

Selanjutnya dapat juga kita lihat dalam peristiwa Fandrah di Aceh Utara pada bulan Mei 1945. Kesemuanya itu merupakan bukti nyata daripada ketidaksenangan rakyat Aceh terhadap kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh penjajah. Memang pada mulanya kehadiran Jepang di Aceh, rakyat beranggapan bahwa juru selamat telah tiba. Namun tidak lama kemudian tindakan-tindakan mulai dilakukannya berupa tekanan terhadap organisasi dan partai-partai politik. Akibatnya organisasi seperti Muhammadiyah, PUSA, parindra mengalami kemunduran bahkan Taman Siswa dibubarkan oleh Gunseibu, hal ini mengurangi simpati rakyat terhadap Jepang.

Kebencian rakyat semakin bertambah setelah Jepang memeras tenaga rakyat untuk kepentingan proyek mereka, seperti membuat jalan raya, Takengon- Blangkeujeren, kubu pertahanan Gunung Setan. Lapangan Udara dan lain-lain. Akibatnya rakyat tidak mempunyai waktu untuk mengurus kepentingan pribadi, sehingga keadaan ekonomi sosial mereka sangat menyedihkan. Hal-hal tersebut di atas menyebabkan perasaan benci terhadap Jepang tidak terkendalikan lagi. Akhirnya Jepang menyadari kedudukannya bahwa mereka bukan saja menghadapi musuh-musuh dari luar yang sedang melakukan serangan balasan, dari dalampun rakyat sudah menaruh benci dengan tingkah yang menyakiti hati rakyat.

Kemerosotan yang dialami oleh tentara Jepang dalam perang Asia Timur Raya, mendorong pemerintahan pendudukan memperluas Aceh Shu sangai Kai (Dewan penasehat Daerah Aceh) pada tanggal 17 November 1943. Badan ini semacam legislatif dibawah pimpinan Teuku Nyak Arief yang beranggotakan 30 orang, anggotanya terdiri dari berbagai kelompok elit di Aceh. Setahun kemudian keanggotaan Shu Sangi Kai diperluas oleh Shu Tjokan (Residen Aceh) S. Iinoo. Perluasan ini disamping dimaksudkan untuk mempergunakan susunan anggota juga untuk menarik kembali simpatik para elit dan berbagai macam kelompok di Aceh kedalam lembaga tersebut.

Sejalan dengan politik ingin mendekati rakyat dari berbagai golongan, maka pada bulan Juli 1945 para pembesar Jepang menghubungi tokoh-tokoh pemuda yang ada di Kutaraja. Dalam pertemuan itu pihak Jepang kembali menegaskan bahwa Dai Nippon pasti akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Oleh karena itu mereka meminta untuk mengkoordinir pemuda-pemuda sehingga lahir suatu angkatan pemuda yang kuat di Aceh.

Pada tanggal 14 Agustus 1945 yang bertempat di Aceh Bioskop Kutaradja diadakan rapat pemuda yang dihadiri juga oleh unsur masyarakat. Suatu hal yang mengejutkan para pemuda, tidak diketahuinya Jepang telah menyerah kalah ditandai dengan tidak hadirnya Syu Tjokan pada rapat tersebut. Satu-satunya yang hadir dari pihak Jepang adalah Matsyubushi yang mengucapkan pidato singkat tanpa bersemangat. Sedangkan di pihak pemuda telah menyampaikan pidatonya dengan membakar semangat rakyat, tidak saja dari unsur pemuda seperti Ali Hasjmy, Tuanku Hasyim, tetapi telah turut berbicara dengan bersemangat sekali dua orang pimpinan Aceh yaitu Teuku Nyak Arief dan Teungku Muhammad Daud Beureueh.

Rapat pemuda yang diadakan tepat pada hari menyerahnya Jepang kepada sekutu telah memberikan arti yang penting bagi para pemuda terutama yang berada di Kutaradja dan Aceh Besar. Mereka telah mendengar langsung pengarahan-pengarahan yang diberikan oleh para pemimpin mereka waktu itu. Karenanya tidak mengherankan setelah Indonesia merdeka para pemuda-pemuda tersebut mengorganisir dirinya dalam satu barisan yang diberi nama Ikatan Pemuda Indonesia

Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang telah menyerah pada sekutu tanpa syarat bersamaan dengan kekalahan Jepang, Soekarno dan Hatta sebagai pemimpin Indonesia segera mengadakan pertemuan dengan pemimpin-pemimpin Indonesia lainnya, mereka mengadakan persiapan untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan dipersiapkan dengan matang, maka pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tepatnya jam 10.00 pagi diproklamasikan kemerdekaan Indonesia keseluruh pelosok tanah air. Namun berita proklamasi ini terlambat beberapa hari diterima di Aceh.

Berita proklamasi kemudian diterima oleh pemuda Gazali dan Rajalis yang kemudian disampaikan pada Teuku Nyak Arief. Berita selanjutnya diterima melalui medis gram Bukit Tinggi yang dikirim oleh Adionegoro. Kemudian Teuku Nyak Arief memanggil tokoh-tokoh penting sesudah menerima berita tersebut. Dihadapan pemimpin-pemimpin itu Teuku Nyak Arief menyatakan sumpah setia kepada Negara Republik Indonesia.

Seiring dengan diterimanya berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, maka dilakukanlah pengibaran Sang Merah Putih diberbagai tempat, namun yang terpenting adalah yang dilakukan pada tanggal 24 Agustus 1945 didepan Kantor Polisi Kepang (Kantor Baperis sekarang) oleh para pegawai bangsa Indonesia. Dalam penaikan Bendera disini timbul insiden dengan serdadu Jepang yang sedang mengawal Tyokan (Pendopo sekarang). Insiden ini terjadi sewaktu Muhammad Hasyim, wakil Kepala Polisi yang diangkat oleh Jepang sedang memimpin penaikan Bendera Merah Putih, pada waktu itu Muhammad Hasyim ditegur dan dihalang-halangi, bahkan kemudian Bendera yang telah dikibarkan itu diturunkannya.

Perbuatan serdadu Jepang itu tidak diterima dan pada saat itu juga seorang peserta yaitu Muhammad Amin Bugis dengan bersemangat merampas kembali Bendera Merah Putih dari serdadu Jepang itu, lalu menaiki tiang bendera untuk selanjutnya mengikat tali bersama Bendera dan berkibarlah Sang Merah Putih tersebut.

Pada tanggal 29 Agustus 1945 Teuku Nyak Arief diangkat menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia (K.N.I) daerah Aceh, untuk memikul biaya perang (perjuangan) yang semakin berat maka Teuku Nyak Arief menjual harta benda pribadinya termasuk segala perhiasan emas milik istrinya, demi kelancaran perjuangan untuk mempertahankan tanah air Indonesia.

Revolusi berjalan terus, rakyat Aceh yang terkenal heroik terhadap penjajahan Belanda dan Jepang, pada saat ini telah bertekad untuk mempertahankan kemerdekaan, jalannya revolusi harus dipimpin dan diarahkan untuk pengarahan jalanya revolusi aparat pemerintah harus disempurnakan, meskipun pemerintah Indonesia mulai tanggal 3 Oktober 1945 dengan surat ketetapan Gubernur Sumatera dari negara Republik Indonesia No. 1/X telah mengangkat Teuku Nyak Arief sebagai Residen Aceh. Teuku Nyak Arief sebagai Residen Aceh pernah menodongkan pistol pada orang-orang yang menghalangi pengibaran Sang Merah Putih, termasuk orang Jepang. Bahkan beliau dengan gagah berani memasang Bendera Merah Putih dimobilnya, sedangkan pemimpin- pemimpin lainnya belum berani melakukannya pada saat itu.

Perjuangan terus ditingkatkan, aparatur terus disempurnakan. Komando perjuangan dipegang oleh Teuku Nyak Arief, biarpun hubungan dengan pemerintahan pusat pada saat itu tidak selancar seperti keadaan sekarang ini, akan tetapi garis-garis yang telah ditetapkan oleh pemerintahan pusat sedapat mungkin dilaksanakan.

Pada bulan Oktober 1945 utusan sekutu tiba di Kutaraja (Banda Aceh sekarang) yang bernama Mayor Knotienbelt untuk membicarakan pendaratan Sekutu di Aceh dalam rangka melucuti senjata-senjata Jepang dan mengurus para tawanan perang. Residen Teuku Nyak Arief menolak rencana sekutu ini. Beliau berjanji akan mengatur pemulangan tentara Jepang dengan sebaik-baiknya.

Kekuatan persenjataan terus diperkuat oleh Teuku Nyak Arief. Tangsi-tangsi (asrama) yang ditinggalkan oleh Jepang, ditempati oleh Polisi istimewa dan TRI yang dilatih dengansistem tempur modern. Bekas opsir Gyu Gun dilantik kembali menjadi perwira-perwira TRI seperti ; Kolonel Syamaun Gaharu, Mayor T.A. Hamid, Kapten Hoesen Yoesoef, Said Usman, Said Ali, Nyak Neh dan Kapten T. Muhammadsyah.

Pada upacara pertama dilakukan Deville Meliter di lapangan Blang Padang dengan Insfektur Upacara Residen Teuku Nyak Arief dan Komandan Upacara adalah Kapten Muhammadsyah.

Memasuki bulan Desember 1945 Residen Teuku Nyak Arief sering digantikan oleh Tuanku Mahmud dan Teuku Panglima Polem Moh. Ali sebagai Wakil Residen. Hal ini diakibatkan karena residen sering mengadakan perjalanan dan peninjauan ke daerah- daerah, terutama di daerah yang kurang aman.

Teuku Nyak Arief sangat berjasa yang luar biasa dibidang kemiliteran, maka beliau diangkat menjadi anggota staf umum TRI dengan pangkat "Jenderal Mayor Tiituler" oleh Panglima TRI Komandemen Sumatera melalui surat ketetapannya No. 10 tanggal 17 Januari 1946.

Beliau dalam melaksanakan tugas sangat aktif dan tanpa mengenal lelah, jarang berada dirumah dan tidak ada istilah istirahat. Akibat terlalu letih dalam menjalankan tugas mengakibatkan Beliau mengidap penyakit gula (kencing Manis) yang semakin parah, maka dari itu beliau meminta cuti selama 2 (dua) bulan untuk berobat, sebagai penggantinya ditunjuk Teuku Panglima Polem Moh. Ali sebagai wakil residen.

Sementara Teuku Nyak Arief menjalankan cuti, terjadi peristiwa Cumbok mengakibatkan perpecahan antara golongan Ulama. Pada saat itu Teuku Nyak Arief merasa sedih ketika mendengar peritiwa tersebut, karena Beliau telah berusaha mempersatukannya sejak zaman Hindia Belanda dan Jepang, ternyata berhasil. Pertentangan kedua golongan ini sengaja dipertajam oleh pemerintah Hindia Belanda dalam rangka politik "Devide et Impera" nya.

Penangkapan terhadap Teuku Nyak Arief dilakukan oleh Tentara Perlawanan Rakyat (TPR) pada saat beliau dalam keadaan sakit, yang dilakukan dengan cara baik- baik dan dengan penghormatan, karena mereka itu menyadari bahwa pengaruh Teuku Nyak Arief masih besar. Kepada keluarganya dikatakan bahwa Teuku Nyak Arief akan dibawa untuk istirahat, kebetulan pada waktu itu Beliau masih dalam keadaan sakit.

Kemudian beliau dibawa ke Takengon dengan sebuah Seda yang dikawal oleh dua orang Tentara Perlawanan Rakyat (TPR) yang berpakaian Hitam dan bertopeng. Setelah satu bulan Teuku Nyak Arief berada di Takengon barulah keluarganya diperbolehkan menyusul untuk mengunjungi Teuku Nyak Arief, yang diizinkan untuk mengunjungi beliau selama di Takengon adalah istri Beliau Cut Nyak Jauhari, anak beliau Teuku Syamsul Bahri dan adik Beliau Teuku Abdul Hamid.

Dalam keadaan sakit Teuku Nyak Arief masih dapat memikirkan tawanan lainnya dan keadaan rakyat Aceh pada umumnya. Sehubungan dengan keadaan sakitnya semakin bertambah, keadaan kesehatannya semakin kritis, dan ajalpun tidak dapat ditolak.

Beliau berpulang ke Rahmatullah disamping istri Beliau Cut Nyak Jauhari dan anak Beliau Teuku Syamsul Bahri serta adik beliau Teuku Abdul Hamid, tepatnya pada tanggal 4 Mei 1946 di Takengon. Jenazah Beliau dibawa ke Kutaraja (Banda Aceh) dan dikebumikan di tanah pemakaman keluarga Beliau, yaitu di Lamreung, lebih kurang dua kilometer dari Lamnyong.

Teuku Nyak Arief yang menjadi Panglima sagi 26 Mukim pada tahun 1927 - 1931 dan pada tahun 1927 tepatnya pada tanggal 16 Mei diangkat sebagai anggota Volksraad disamping tetap memegang jabatan selaku Panglima Sagi 26 Mukim. Beliau dijuluki sebagai Rencong Aceh. Pada tahun 1945 - 1946 Beliau diangkat sebagai Residen Aceh yang pertama. Perjuangan Beliau tanpa mengenal lelah dan tanpa pamrih, rela mengobarkan harta benda demi perjuangan. Beliau merupakan pahlawan tiga zaman, seorang pejuang yang gigih, karena jasanya dibidang kemiliteran (ketentaraan) maka Beliau diangkat sebagai anggota staff Umum TRI dengan pangkat "`Jenderal Mayor Tirtuler" oleh panglima TRI Komandemen sumatera dengan Surat Ketetapan No. 10 tanggal 17 januari 1946.

Teuku Nyak Arief telah meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya, dan beliau sebagai seorang pemimpin rakyat yang telah berjuang bersama-sama rakyat sampai dengan akhir hayatnya, dan Beliau meninggal dunia pada tanggal 4 Mei 1946 di Takengon (Aceh Tengah) dalam status tahanan/tawanan dan dimakamkan pada pekuburan keluarga Beliau di lamreung ± 2 km dari Lamnyong Banda Aceh.

Teuku Nyak Arief adalah Pahlawan Nasional yang dikukuhkan dengan surat Keputusan Presiden RI No. 0711/TK/tahun 1974, tanggal 9 November 1974.

Sumber : Aceh Prov.go.id
Teungku Ismuhadi Jafar - Sang Orator Ulung yang Terkurung di Cipinang

Teungku Ismuhadi Jafar - Sang Orator Ulung yang Terkurung di Cipinang

“Kabar duka adalah berita terbaik” Begitu ucapan tokoh antagonis dalam film James Bond memicu perang antara China dengan Inggris. Kalau diperhatikan zaman ini, kalimat dalam film itu ada benarnya. Namun tidak semua kabar duka itu menjadi berita terbaik. Kadang berita duka menjadi berita buruk. Karena duka itu tak pernah bisa tersenyum.



Ada seorang anak Aceh kini sedang meringkuk di kurungan Cipinang. Namanya T Ismuhadi Jafar. Kami tak bisa mengeluarkannya dari penjara ataupun memindahkan ia ke Aceh. Hanya dengan menurunkan jeritan hatinya dari balik jeruji baja, kami harap, sedikit membantunya karena ada yang dapt merasakan penderitaannya. Ia telah berbagi.

Selama ini kita membaca tentangnya di berbagai media cetak. Kini kita baca lagi di halaman ini.

Kisah ini adalah kirimannya melalui surat elektronik ke ruang redaksi Harian Aceh. Dia mengaku, warisan darah pejuang telah mengantarnya ke Penjara. Ia turunan ke 6 Teuku Nyak Hamzah di Peusangan dari garis ayah, dan cucu Tgk. Hasan Ibrahim yang lebih dikenal dengan Nyak Hasan Kodak di Krueng Baroe dari garis ibu.

Ia lahir pada 29 Januari 1969 di Kr. Baroe. Usia 4 tahun, ia dibawa orangtuanya merantau ke Timbangan Gajah Dua. 3 tahun kemudian, ia pindah ke Lampahan Aceh Tengah. Pada masa-masa Operasi Gaya Baru, bunyi sepatu lars tentara hampir setiap malam mengganggu tidurnya. Kerap sedang bermain di belakang rumah di pagi hari, Ismuhadi kecil menyaksikan orang-orang hasil tangkapan operasi yang diseret, tubuh mereka penuh luka dan darah bekas tembakan yang belum mongering.

Ismuhadi kecil bertanya pada ibunda, kenapa mereka diperlakukan seperti itu, apa salah mereka. Dengan sigap sang bunda menutup mulut Ismuhadi dengan jari telunjuk. “Syu­uut...jangan tanya begitu nak, didengar tentara bahaya, kita bisa ditangkap.” Engga puas dengan jawaban ibunda, Ismuhadi kecil menguping pembicaraan org-orang dewasa di sekitar rumah.

Ternyata hasil buruan tentara tadi pagi, adalah pengikut setia Tgk. Ilyas Leubee. Ismuhadi telah merekam dalam ingatannya, begitu banyak menyaksikan ibu-ibu menangis karena kehilangan suami atau anak laki-lakinya, dibawa tentara lalu tak pernah kembali.

Th 1985, ketika masih duduk di bangku SMP Negeri 1 Matang Geulumpang Dua, ia berkawan karib dengan Iswadi Jamil. Ia pun terinspirasi dengan perjuangan rakyat Aceh. Lalu bersama Iswadi Jamil, ia ikut mendaftar diri pada perekrutan tentara AM (saat itu bkn GAM) yang akan dikirim untuk belajar ke Libya. Malam pemberangkatan, Ismuhadi dan Iswadi telah kabur dari rumah dan sembunyi di belakang Mesjid Balee Kiro, Peusangan. Namun malang, meski telah melobi Tgk.Nasruddin bin Ahmed, tetap saja Ismuhadi dan Iswadi gagal berangkat karena faktor usia yang terlalu muda pada masa itu. Sebagai ganti ke Libya, ia sekolah lagi dan diterima di SMA Negeri 1 Cot Gapue Bireuen.

Walau sudah menyibukkan diri dengan sekolah, Ismuhadi tak mampu mengobati kecewaan karena gagal belajar ke Libya. 2 tahun di SMA seraya terus mempelajari beberapa tulisan DR.Tgk.Hasan di Tiro tentang perjuangan rakyat Aceh. DR.Tgk.Hasan di Tiro adalah satu-satunya tokoh yg mengilhami Ismuhadi tentang pentingnya harga diri sebuah bangsa, “dignity”. Menurut Ismuhadi, sampai saat ini, belum ada tokoh Aceh yang mampu menggantikan kecerdasan Wali Nanggro dalam memperjuangkan Aceh. Ia berterus terang, terinspirasi dengan beberapa tulisan Wali.Ia terinspirasi terlalu dalam, sehingga membuatnya frustrasi dan membolos sekolah. Daripada membaca buku pelajaran di sekolah, Ismuhadi lebih memilih membaca tulisan Wali Nanggroe. Ismuhadi ke Keumala Pidie. Ia berbulan-bulan tak masuk sekolah, akhirnya Ismuhadi tak naik kelas. Gagal belajar ke Libya dan gagal di sekolah lalu ismuhadi pergi menjauh dari Aceh.

Lalu, ia pindah sekolah ke SMA Depok Jawa Barat. Namun Tuhan menentukan lain; Sambil melanjutkan sekolah di SMA Depok, Ismuhadi bertemu dengan T. Taqwallah alias Tgk Wan Botak dari Idi, yang baru saja tiba di Pulau Jawa. Ia pulang dari Libya melalui Malaysia lalu ke Singkawang dan Tanjung Priok. Tgk.Wan baru saja menyelesaikan pendidikannya di Libya. Nostalgia dengan perjuangan rakyat Aceh termemory kembali, cinta lama bersemi kembali.

Syahdan, tahun 1990, masa ganas-ganasnya DOM di Aceh, banyak pemuda Aceh yang lari menyelamatkan diri keluar Aceh, di antaranya, serombongan pemuda Nisam yang dipimpin M.Yusuf. Mereka tak mendapatkan tempat yang selayaknya di mata masyarakat Aceh jabotabek. Umumnya, penduduk Aceh di perantauan itu takut dengan efek DOM di Aceh.

Ismuhadi yang tingkat sosialnya tinggi pun tergerak hati untuk memperlakukan pengungsi dari Nisam Aceh Utara itu sebagaimana layaknya manusia. Tak cukup dengan itu, di Pasar Lama Jalan Dewi Sartika Depok, Ismuhadi menempel pengumuman “Bagi pengungsi Aceh yang butuh tempat berteduh, silahkan tinggal di rumah kontrakan Ismuhadi”.

Umumnya para pengungsi Aceh itu tak punya skill formal, tak mungkin dapat pekerjaan yang layak di Depok. Untuk biaya hidup sehari-hari, kami berdagang sayur kacang panjang di Pasar Kemiri Depok. Setiap malam kami naik kereta api ke Bogor untuk belanja sayur lalu kami jual di Pasar Depok. Setelah uang terkumpul dan cukup untuk tiket ke Malaysia, berangkatlah mereka merantau ke Malaysia. Sementara itu Ismuhadi melanjutkan hidupnya di Depok. Hingga kini Ismuhadi tak pernah bertemu lagi dg mereka. Apakah mereka masih hidup atau ditangkap aparat, Ismuhadi tak pernah tahu kabarnya.

Berbekal ijazah SMA, pada tahun 1991 Ismuhadi diterima bekerja di sebuah perusahaan Swedia yang bermarkas di JL. Fatmawati Jaksel, sebagai tenaga pemasaran. Memulai karir dari sales door to door lalu menjadi supervisor. Setelah merasa ilmu pemasarannya cukup, Ismuhadi keluar dari tempatnya bekerja untuk memulai wiraswasta. Ia pun pindah ke Pejaten Timur Jakarta Selatan.

Ismuhadi memulai usaha tambak udang di Desa Pakis Jaya, Karawang Jabar. Ia pun berjoin dengan pengusaha Jakarta, untuk membuka perusahaan bahan kimia anti rayap merk wazary dar Jepang di Roxy Mas Jakarta Pusat. Saat itu, kehidupannya terputus dengan perjuangan Aceh. Kontak dengan kawan lama pun tak ada sama sekali. Ia terus berkonsentrasi mencari uang hingga 1994.

Tahun 1994, Ismuhadi pulang ke Aceh dan menikah dengan Aznani, teman kelasnya pada waktu SMA di Cot Gapue, yang ternyata masih keluarga dekatnya. Bahkan, pada masa ibunda Ismuhadi sekolah dulu, tinggalnya di rumah kakek Aznani. Setelah berbulan madu, Ismuhadi memboyong Aznani ke Jakarta. Masa-masa awal berumah tangga, Ismuhadi mendapat cobaan berat, ditipu oleh rekan bisnis, dan Ismuhadi bangkrut.

Aznani mulai mengandung anak pertama, Ismuhadi tak punya cara lain untuk menyambung hidupnya. ,maka ia pun menjadi sopir President Taxi. Sebulan membawa taxi datanglah berkah dari Allah SWT yg tak akan dilupakan seumur hidupnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Hari besejarah itu. Ismuhadi dapat penumpang warga negara Jepang yang kemudian menawarkan agar Ismuhadi ikut bekerja pada keluarga Jepang tsb.

Awalnya bertugas sebagai sopir pribadi boss di JICA. Ia merasa pengetahuannya terlalu sedikit, sehingga ia selalu merasa . untuk menghilangkan kebodohan itu, setiap malam pulang kerja Ismuhadi menyempatkan diri untuk belajar sampai tertidur. Usahanya itu amat berguna. 6 bulan jadi sopir, ia diangkat menjadi staff, tepat saat itu menjelang anak pertamanya lahir. Yang lebih menyenagkan lagi, Ismuhadi dikukuhkan menjadi anak angkat dari keluarga Tadashi Uchida.

Putra pertama Ismuhadi pun lahir, lalu ia mendapatkan kehormatan, anak Ismuhadi boleh memakai nama Tadashi, yang ditandatangi sertifikatnya oleh semua anggota keluarga bossnyayang berkebangsaan Jepang tersebut. Setahun bekerja, Ismuhadi diangkat menjadi sekretaris pribadi hingga masa tugas Mr.Tadashi Uchida berakhir di Jakarta dan kembali ke jepang.

Tahun 1999, awal Ismuhadi diundang oleh DR.Mukhtar Ansary untuk hadir pada acara rapat di Asrama Haji Pondok Gede Jawa Barat. Untuk menyikapi persoalan Aceh pada masa itu. Di sanalah tercetus ide mendirikan Forum Perjuangan dan Keadilan untuk Rakyat Aceh (FOPKRA).

Ismuhadi sebagai anggota biasa. Relasi bisnisnya yang bernama Fadloen Hasan Langsa, tinggal di Bendungan Hilir, menjadi ketua DPW DKI, dan Nurmasyitah Ali menarik Ismuhadi agar duduk sebagai ketua pengerahan massa DKI.

Debut pertama FOPKRA adalah mengkonsolidasikan kekuatan, membentuk plat form dan arah-arah perjuangan. Pada masa itu DPP FOPKRA dipimpin oleh Tgk.Salahuddin Alfatah, Tgk.Waisul Qarany dan Tgk.Muzakkir Samidan, juga ada Ismail Beurdan dan tokoh-tokoh berbobot lainnya. Lahirlah istighasah pertama di Mesjid Al-Azhar Kebayoran. Di sana Ismuhadi mulai kenal dengan beberapa tokoh masyarakat, di antaranya, Alm Jafar Sidik Hamzah, Ilyas HN, Teuku Amir Husen dll.

Melihat animo masyarakat Aceh Jabotabek yang sangat tinggi kepeduliannya terhadap saudara-saudaranya yang menderita di Aceh, membuat FOPKRA sebagai wadah penampung aspirasi masyarakat Aceh Jabotabek itu tumbuh ber­kembang sangat cepat. FOPKRA Tidak menyaingi Taman Iskandar Muda yang sudah sangat berpengalaman mengurusi masyarakat Aceh Jabotabek, namun FOPKRA hadir sebagai wadah penampung aspirasi yang tidak ada tempat dalam wadah Paguyuban Taman Iskardar Muda.

FOPKRA mendukung aksi-aksi mahasiswa Aceh yang sering berdemo ke DPRRI dan Istana Negara untuk menuntut perlakuan adil bagi Aceh.

Pertemuan mahasiswa di Aceh melahirkan SIRA, yg kemudian terkenal dengan aksi Referendum yang mampu menurunkan massa terbesar dalam sejarah Aceh. SIRA dikomandani oleh Muhammad Nazar dan Alm Tjut Nurasikin (tapol/napol Aceh yang meninggal di dalam penjara Lhoknga akibat terjangan ombak tsunami). Apa yang sedang terjadi di Aceh kemudian mengilhami Ismuhadi,

“Jika di Aceh yang serba susah dan terbatas serta terancam jiwanya, Muhammad Nazar dkk mampu menggelar aksi tuntutan referendum bagi Aceh, kenapa kita yang hidup enak dan aman di Jakarta tak berbuat seperti Nazar dkk di Aceh ?” Pertanyaan tersebut Ismuhadi lemparkan di hadapan beberapa tokoh masyarakat Aceh yang sedang berkumpul di salah satu kantor RW di Jalan Marga Satwa Pondok Labu. Gayung bersambut, ide Ismuhadi ditanggapi positif dan didukung penuh oleh Bpk Drs.Saleh Manaf.

November 1999, terbentuklah panitia aksi tuntutan referendum bagi Aceh ke DPR RI, Ismuhadi sebagai ketua umum panitia tsb. Berkat hubungan baik dengan Willy, seorang turunan Cina, pengusaha sukses Magelang, Ismuhadi diantar ke rumah Ir.Hatta Rajasa. Ismuhadi ingin memastikan bahwa pada hari H nanti, Amin Rais bersedia menerima utusan.

November 1999 tersebut merupakan aksi bersejarah bagi masyarakat Aceh Jabotabek. Aksi terbesar dalam sejarah perantauan masyarakat Aceh ke Pulau Jawa. Masyarakat Aceh berbondong-bondong dari Ujung Jawa Timur sampai ke Ujong Kulon Jawa Barat berkumpul ke DPR RI, menuntut pemerintah pusat agar menghentikan Operasi Militer di Aceh, mencabut DOM atau memberikan referendum bagi Aceh untuk memilih tetap bergabung dengan NKRI atau berpisah sebagai negara yang berdaulat.

Puluhan ribu masyarakat Aceh tumpah-ruah ke DPP RI. Perwakilan diterima oleh Amin Rais dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Selesai berorasi, masyarakat Aceh tersebut semuanya berjalan kaki dengan tertib dari Senayan ke Mesjid Istiqlal Jakarta dan bubar.

Sukses besar menggelar aksi damai tersebut bukan semata-mata karena Ismuhadi, itu berhasil berkat dukungan penuh dari GAM dan SIRA di Aceh. Taman Iskandar Muda Jabotabek, FORKA dan Lsm lainnya, Muhammad Nazar dkk. Yang terpenting adalah rasa solidaritas masyarakat Aceh di Pulau Jawa yang begitu tinggi kepada saudaranya yang menderita di Aceh. Perantau Aceh yang bertebaran seantero Pulau Jawa itu rela menutup toko dan bolos kerja maupun kuliah demi menunjukkan rasa solidernya. Itu saj yang perlu diingat.

Usai menggelar perhelatan besar aksi tuntutan referendum ke DPRRI, kembali ke agenda FOPKRA menuntut keadilan bagi korban DOM di Aceh, melindungi satu-satunya saksi hidup dalam tragedi pembantaian Tgk Bantaqiah dan murudnya. Selain itu, Ismuhadi disibukkan oleh kedatangan anggota2 GAM yang sedang tugas ke Jakarta maupun yg menyelamatkan diri dari kejaran aparat di Aceh.

Rumah dan bengkel serta pool bis Ismuhadi menjadi tempat penampungan sementara. Masa itu Ismuhadi sering dikunjungi oleh tokoh-tokoh pejuang Aceh, di antaranya Alm.Tgk.Ishak Daud, Alm Tgk.Ismail Saputra, Sayed Mustafa Usab dll. Bahkan kemudian hari Ismuhadi mulai membatasi diri dalam menampung pelarian dari Aceh, kecuali mereka membawa surat dari panglima wilayahnya masing-masing di Aceh, seperti memo yang sering diterima dari Almarhum Bang Jack Kapolda Pasee. Atau setidaknya menerima pesan lewat Handphone dari Zakaria Saman alias Tgk.Karim alias Raja Tjut yang bermukim di Siam Thailand, pun dari Ustadz Ilyas Abed di Aceh, untuk memastikan orang-orang yang perlu dibantu di jakarta adalah benar-benar pejuang Aceh.

Ismuhadi juga mendapat undangan dari beberapa lembaga dunia, baik untuk hadir dalam seminar maupun pelatihan Pemberdayaan Masyarakat Sipil di tengah konflik. Belajar hukum humaniter dan hukum perang yang mengatur cara berperang agar tidak mengorbankan anak-anak, perempuan dan penduduk sipil. Bahkan Ismuhadi mendapat kehormatan berkunjung ke Negeri Belanda bersama Salahuddin Alfatah dan Muhammad Nazar Sira untuk bertatap muka lansumg dg pimpinan GAM di negeri tersebut.

Dalam kesempatan itu Ismuhadi sempat membawa ratusan lembar photo kekejaman perang di Aceh, lalu menyerahkan kepada ‘Paduka Yang Mulia Tgk.Malek Mahmud al Haytar agar disampaikan kepada Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe DR.Tgk.Hasan M di Tiro. Sepulang dari Negeri Belanda, Ismuhadi menyempatkan diri menerbitkan buku berjudul “Mengapa Sumatera Menggugat” yang ditulis oleh Tgk.Yusra Habib Abdul Gani di Denmark. Dan setelahnya, bersama Almarhumah Tjut Nurasikin dan Sayed Mustafa Usab, Ismuhadi ke Singapura bertemu Tgk. Malek Mahmud Alhaytar.

Tahun 2000
Seluruh bisnis Ismuhadi dipercayakan pada orang-orang kepercaannya. Sementara itu, dia lebih banyak mencurahkan perhatian pada perjuangan Aceh. Sangking banyaknya orang-orang yang diurus, pernah suatu ketika isterinya mengeluh, tapi Ismuhadi tetap teguh pada pendirian dan tekadnya yang selalu berkat “semua ini tugas dari Allah SWT”, kemudian isterinya mengamini dan mendukung dari belakang. September 2000, Ismuhadi kedatangan tamu dari Malaysia, Tgk.Tahe Hasan atau lebh dikenal dengan nama Tgk.Raya Panyang (kini bekerja di kantor BRA Banda Aceh) yang harus ditampung di rumah Ismuhadi di Jakarta.

Tgk. Raya Panyang pernah menampung Ismuhadi di Kajang Malaysia, pada waktu transit di Kuala Lumpur sebelum terbang ke Negeri Belanda. Atas rasa balas jasa itulah Ismuhadi merasa berkewajiban mengurus dengan sebaik-baiknya Tgk.Raya Panyang selama berada di Jakarta.

24 Sept 2000, kebetulan hari itu Ismuhadi menangani sendiri penjualan sebuah mobil ke pembeli di jalan Margonda Depok, Ismuhadi ditelpon oleh kepala bengkel, memberitahukan bahwa seluruh karyawan dan tamu bengkel ditangkap polisi dibawa ke Polsek Jagakarsa.

Sempat panik dan bertanya kenapa mereka ditangkap polisi, ada salah apa pada polisi, tapi tak ada yang tahu. Serta merta, Ismuhadi menyerahkan mobil ke pembeli di Bank BCA Margonda, lalu shalat dzuhur. Rasa tanggung jawabnya terhadap orang-orang yang menumpang di bengkel, terutama Tgk Raya Panyang, membuat tekad Ismuhadi bulat untuk membela mereka. Dengan sigap, ia menyetop taxi dan minta diantarkan ke Polsek. Sesampai di polsek, Ismuhadi malah diusir sama petugas piket gerbang.

Salah seorang polisi bernama Joko yang sering memperbaiki mobil di bengkel Ismuhadi lalu menunjuk-nunjuk, dengan isyarat, kawan Ismuhadi yang barusan ditangkap, kini di atas, di lantai dua sedang diperiksa. Saat itu baru saja Sayed Mustafa dan Tgk Raya Panyang dibebaskan dan diijinkan meninggalkan polsek. Hati Ismuhadi lega karena tak terjadi apa-apa pada Sayed Mustafa dan Tgk Raya Panyang. Namun tetap Ismuhadi belum meninggalkan polsek karena seluruh karyawan dan beberapa orang tamu bengkel masih diperiksa, bahkan sampai menjelang magrib, lalu dibawa ke Polda Metro Jaya.

Siang terik dan mengerikan itu, Ismuhadi menyusul ke Polda Metro Jaya. Di sana ia menunggu orang yang ditampungnya selesai diperiksa satu persatu. 28 orang lansung dimasukkan ke tahanan. Ia masih menunggu. Namun bukan kawannya dilepaskan, malah pada jam 02.00, Ismuhadi diperiksa seputar peristiwa meledaknya bom di gedung BEJ. Ismuhadi selesai diperiksa pada jam 04.15. Lalu disuruh pulang.

Kombes Harr Montolalu memanggil AKP Eko; “Eko, Si Tengku ini suruh balik kanan aja.” “Siap ‘ndan,” jawab AKP Eko. Lalu ia menoleh Ismuhadi. “Tengku, ayo saya antar pulang.” baru dua langkah keluar dari pintu ruangan pemeriksaan, tiba-tiba Kombes Harry Montolalu memanggil lagi dan bertanya; “Tengku kenal dengan Iwan Setiawan alias Husen Jen?” “Ga kenal pak,” jawab Ismuhadi. Tiba2 seorang serse membawa Iwan Setiawan ke hadapan Ismuhadi. “Ini orangnya, kenal enggak kamu sama dia, Teungku?” Tanya Kombes.

“Enggak kenal Pak,” jawab Ismuhadi, yang berani bersumpah demi Allah, ia belum kenal siapa Husen Jen. Lalu Husen Jen menyela, “Bohong pak, dia boss saya. Dia yang menyuruh saya meledakkan bom di BEJ. Serta merta beberapa polisi berpakaian preman memukul Ismuhadi dan terjerembab ke bawah kolong meja lalu diborgol dan dibuatkan surat perintah penahanan, lalu diisolasi dari yang lain2nya.

Awal Mala Petaka Bagi Ismuhadi dan Keluarga
Selama tujuh hari tujuh malam Ismuhadi diisolasi. Siang dan malam diinterogasi, ditendang, digantung kepala ke bawah bahkan distroom dengan kabel listrik, ditelanjangi bahkan kemaluan disundut dg api rokok, disiksa untuk mendapatkan pengakuan. Ismuhadi tidak tahu apa yang harus diakuinya karena memang tidak tahu apa tentang bom BEJ.

Namun karena tidak kuat menahan siksaan, akhirnya Ismuhadi memohon kepada aparat yang menyiksanya agar dia jangan disiksa lagi. “Tolong ditembak saja saya, agar mati, karena tidak kuat menahan siksaan,” pinta Ismuhadi. Setelah Ismuhadi memohon agar ditembak, aparat penyiksanya mulai berhenti menyiksa, lalu menyerahkan Ismuhadi ke polisi penyidik yang baik dan sopan. Ia pun dipertemukan dengan pengacara Hendardi dari PBHI.

Ke Penjara Cipinang
Setelah 4 bulan dikurung dalam sel pengap di Polda Metro Jaya, lalu Ismuhadi dipindahkan ke penjara Cipinang. Saat di sana, ia mulai sedikit lega karena dapat dikunjungi oleh keluarga dan kawan-kawan maupun tokoh masyarakat Aceh di Jakarta.

Kekayaannya Raib
Namun yang paling menyedihkan baginya adalah, yang dulu Ismuhadi cari dengan keringatdemi isteri dan anak-anaknya, lenyap begitu saja. Empat belas unit stok mobil bekas untuk dijual beli raib diangkut polisi tanpa surat tanda terima barang sitaan. Spare part, olie dan ban mobil beserta peralatan bengkel senilai 700 juta lebih telah hilang tanpa ada saksi siapa yangmengambilnya. Tiga rekening bank di BCA Pondok Indah, Danamon Pondok Indah dan BNI Pasar Minggu diblokir polisi.

Yg tertinggal hanya bis kota yang kebetulan dibawa pulang dan diselamatkan oleh sopir masing-masing bis. Rumahnya pun disegel polisi. Isteri dan anak-anaknya mengungsi ke rumah Nur Masyitah Ali. Sejak itu, isteri dan anak Ismuhadi berpindah-pindah tempat. Tadashi Mulana tidak berani sekolah karena malu pada teman-temannya. Cahya Keumala masih dalam gendongan.

Hidup dari Belas Kasihan Penjenguk
Selama menghadapi masa sidang, Ismuhadi hidup di penjara. Di kurungan terali baja itu ia menggantungkan diri pada belas kasihan orang-orang yang membesuknya. Ia sangat beryukur, saat itu banyak ia terima sumbangan dari teman-temannya di Aceh yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Dia ikhlas setelah tahu seluruh harta yang dikumpulkan bertahun-tahun lenyap dalam sekejap mata. Ia sadar, saat lahir ke dunia tidak membawa apa pun jua.

Ismuhadi yakin, semua yang dimiliki di dunia bahkan dirinya sendiri pun milik Allah SWT. Ismuhadi ikhlas. Fokus Ismuhadi adalah bagaimana menghadapi persidangan.

Divonis 20 Tahun Penjara
Jaksa mendakwanya sebagai panglima GAM Wilayah Jabotabek, dan menuntut Ismuhadi dengan hukuman mati. Ismuhadi telah maksimal membela diri namun hakim bersikukuh menjatuhkan vonis 20 tahun penjara.

Jaksa Endang Rachwan, SH melakukan konferensi pers stelah menuntut Ismuhadi. Jaksa itu bilang, sangat pantas Ismuhadi dituntut hukuman mati, karena Ismuhadi berjuang untuk memerdekakan Aceh.

Putusan dua puluh tahun penjara dinilai tak adil oleh Ismuhadi, karena keputusan itu bukan proses pengadilan, namun proses penghukuman. Merasa diperlakukan tak adil, Ismuhadi banding ke Pengadilan Tinggi DKI. Putusan pengadilan tingkat tinggi menguatkan putusan pengadilan negeri, artinya ia tetap dihukum 20 tahun penjara. Ismuhadi tak terima dihukum 20 tahun, lalu ia mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.

Hukuman Bertambah Jadi Seumur Hidup
Setelah 2 tahun menunggu putusan mahkamah agung, Ismuhadi dikejutkan dengan putusan vonis bahwa Ismuhadi dinaikkan hukuman menjadi hukuman seumur hidup, sama dengan hukuman yang diterima Irwan Tiro dan Ibrahim Hasan Sawang. Mengahrap keringanan malah beban bertambah.

Menjalani hukuman seumur hidup tidaklah mudah bagi Ismuhadi, namun ia tak putus asa dengan statusnya. Dia berperinsip, hidup tak boleh selamanya bergantung pada orang lain, apalagi menjadi parasit. Isteri Ismuhadi mengurus anak-anak mereka, mengurus usaha bis yang masih tersisa. Isteri Ismuhadi sangat setia. Ismuhadi berpesan kepada isterinya agar jangan memikirkan tentang biaya hidup Ismuhadi di penjara, tapi besarkanlah usaha bis kota yg tersisa itu utk biaya hidup Aznani dan anak mereka yang lain.

Merintis dalam Penjara
Dengan modal seadanya Ismuhadi memulai usaha di dalam penjara. Usaha pertama yang digelutinya adalah menanam sayur di lahan-lahan kosong dan beternak ayam yang lalu dijual pada sesama penghuni penjara. Setelah beberapa waktu berlalu, untuk mengisi hari-hari di penjara, Ismuhadi memulai usaha warung yang lalu tumbuh berkembang hingga menjadi 5 warung di dalam penjara Cipinang. Bahkan ia mulai mampu menata kembali usaha-usahanya di luar penjara yang selama ini telah terlantar.

Contohnya, kebun kelapa sawit milik Ismuhadi di Aceh Timur yang pernah diancam Pemda Aceh Timur, bila tak diurus akan dibagi-bagikan kepada masyarakat, kini telah terurus kembali. Ismuhadi selalu bersyukur memiliki isteri yang cantik dan setia serta anak-anak yang cerdas. Bagi Ismuhadi, itu semua rahmat Allah yang tak terhingga baginya. Meski terpenjara, setidaknya Ismuhadi merasa lebih beruntung dari 2 kawannya, Irwan Tiro dan Ibrahi Sawang.

Ibrahim telah lama ditinggal oleh isterinya yang kawin dengan orang lain setelah tahu Ibrahim Sawang dihukum seumur hidup dan tak mampu membiayai keluarganya. Ketidakmampuannya membiayai keluarga karena Ibrahim sawang 5 tahun dirantai di dalam penjara Cirebon Jawa Barat, ia tak bisa berbuat apa-apa. Begitu juga yang menimpa Irwan Tiro yang dihukum seumur hidup dalam kasus serupa Ismuhadi. Keluarga isteri Irwan Tiro menggugat ke pengadilan agama agar dijatuhkan talak terhadap Irwan Tiro yang sedang menjalani hukuman seumur hidup di penjara.

Kenangan dengan Irwandi Yusuf
Meski pahit dan getir sekali rasanya hidup di penjara, Ismuhadi selalu menuliskan kenangan manisnya di penjara bersama beberapa orang yang kini telah menjadi tokoh penting di Aceh. Misalnya pada saat penangkapan Irwandi Yusuf di Jakarta. Tentang Irwandi Yusuf, Ismuhadi punya kenangan.

‘Berkat bantuan perwira polisi Teuku Saladin Kanit Kamneg Polda Metro saat itu (kini Kapolres Bireuen) Ismuhadi bisa bicara lansung dengan atasan T.Saladin yaitu Kombes Tito Karnivian;

“Pak Tito, Saya Ismuhadi di penjara Cipinang. Irwandi yang Bapak tangkap itu saudara saya, tolong Bapak perlakukan secara manusiawi, jangan disiksa, jangan ditembak mati, kalau mau dihukum, silahkan hukum berapa lapis pasal pun tak apa-apa.” Pinta Ismuhadi.

“Baik Tengku, akan saya jaga dia,” jawab Pak Tito. Pak Tito ini adalah seorang polisi berpendidikan tinggi dan cerdas menurut Ismuhadi, dia respek kepada Ismuhadi meski Ismuhadi seorang narapidana. Kenangan paling manis bagi Ismuhadi adalah saat Tgk Nasruddin bin Ahmed dikirim ke Cipinang lalu sekamar dengannya. Ismuhadi sangat kagum pada Tgk Nasruddin bin Ahmed. Menurut Ismuhadi, dia orang cerdas dan taät beribadah.

Suatu hari ada bom meledak di Atrium Senen. Anehnya, Ismuhadi lagi yang dituduh. Isteri Ismuhadi ditahan di Polda. Dalam penjara itu, Ismuhadi gelisah mondar-mandir setelah melihat di televisi isterinya ditangkap. Tgk Nasruddin bin Ahmed berpesan; “Jangan panik, wudhu dan shalat sunnah mengadu sama Allah SWT.” Maka Ismuhadi menuruti sarannya. Setelah itu, isteri Ismuhadi dibebaskan dari Polda Metro Jaya

Nasehat Tgk Nasruddin bin Ahmed pun sangat berguna bagi Ismuhadi ketika kasus Ismuhadi, Ibrahim, Irwan dibawa ke Swedia oleh Pemerintahan Megawati yang dianggap sebagai bukti bahwa GAM telah melakukan tindakan terorrisme di Wilayah Republik Indonesia.

Diminta Jebloskan Petinggi GAM di Swedia ke penjara
Tgk Nasruddin bin Ahmed dan Ustadz Ilyas Abed tahu persis apa jawaban Ismuhadi dan temannya. Pertama sekali tim dari Mabes Polri datang mengambil lagi berita acara pemeriksaan terhadap Ismuhadi denagn tuduhan melanggar pasal 106, 107, dan 108 KUHP.

Lalu, sebulan kemudian jaksa dari Swedia mewawancarai Ismuhadi dan temannya. Hasilnya, jaksa Swedia kembali ke negerinya lalu menuntut bebas dan memberi ganti rugi kepada para pimpinan tinggi GAM di Swedia.

“Kalau ditanya kenal dengan wali, siapa orang Aceh yang tak kenal wali, tapi wali tak kenal kami,” jawab Ismuhadi. Lalu tim pembela PDI berkunjung ke Cipinang merayu agar Ismuhadi menandatangani permohonan grasi pada Presiden Megawati, dijamin akan dibebaskan.

“Kalo presiden mau membebaskan seseorang dia punya hak perogratif, tak perlu saya menandatangani surat permohonan grasi (mengaku salah dan minta ampunan) pada presiden,” tegas Ismuhadi.

Tim PDI itu berjanji, Ismuhadi lansung bebas setelah tandatangan grasi. Ismuhadi bertanya; “Untuk apa surat permonan grasi harus saya tandatangani ?”

“Untuk bukti agar pimpinan GAM di Swedia dapat dihukum.”

“Oh, no way, mereka yang di Swedia tak pernah perintahkan kami untuk melakukan teror,” tegas Ismuhadi, yang tak mampu mengorbankan orang lain agar dirinya terbebas dari penjara. Terlebih para petinggi GAM di Swedia adalah tokoh-tokoh yang dikaguminya. Bahkan matipun takkan membuat Ismuhadi berkhinat, apalagi petinggi GAM tak pernah mengeluarkan perintah agar meneror Jakarta. Menurut dokrin GAM yang diketahui Ismuhadi, di masa perang, musuh pejuang Aceh yang ada di Aceh.

Penghujung tahun 2004, gempa menguncang Aceh, dan gelombang tsunami memporak-porandakan sebagian bumi Iskandar Muda. Ismuhadi terkesima menyaksikan di televisi, lidahnya kelu tak mampu berkata apa-apa, hanya air mata deras mengalir di pipi. Di balik jeruji besi itu, Ismuhadi tak mampu berbuat apa-apa untuk menolong saudaranya yang tengah ditimpa musibah nun jauh di kampung halaman, hanya mampu berdo’a dan menangis hingga matanya bengkak.

Galang Dana untuk Korban Tsunami
Teman-teman sesama penghuni penjara berdatangan berkumpul di depan kamar Ismuhadi. Khusu bagi yang beragama Islam dan berasal dari Aceh, menggelar takdziah dan membaca yassin di kamar Ismuhadi. Seminggu kemudian, Ismuhadi menerima sumbangan uang dan pakaian dari keluarga-keluarga sesama penghuni penjara, lalu Lapas Cipinang secara resmi mengadakan acara resmi ‘Malam Renungan Aceh.

Ismuhadi membaca puisi tentang tsunami di Aceh, lalu hasil dari sumbangan berupa uang dan pakaian itu, Ismuhadi dan Lapas Cipinang menyerahkan sumbangan itu ke Stasiun Televisi Lativi untuk disalurkan ke Aceh. Begitu besar kepedulian semua napi di Cipinang terhadap saudara-saudara kita yang tengah ditimpa musibah di Aceh.

Berbicara dengan Cut Nur Asikin Saat Dihantam Gelombang
Detik detik terjadinya gempa pukul 09, Ismuhadi sedang berbicara dengan Cut Nurasikin melalui HP, karena kebetulan pagi itu Cut Nur Asikin berulang tahun.

Tiba-tiba, terdengar teriakan Kak Cut Nurasikin, “Allahu Akbar... Allahu Akbar...” Lalu terputus dan tak pernah tersambung lagi hingga detik ini. Namun dalam benak hati dan fikiran Ismuhadi, Cut Nur Asikin masih hidup. Ismuhadi tak pernah percaya Cut Nur Asikin telah tiada untuk selamanya, telah kembali ke alam keabadian sepanjang masa.

Iasmuhadi menegaskan, jangan pernah berkata di hadapan ismuhadi Cut Nurasikin telah tiada untuk selama lamanya, Ismuhadi bisa marah. Bahkan ketika Po Cut Endang, anak bungsu Kak Cut Nurasikin yang kini melanjutkan pendidikan ke Mesir bertandang ke Cipinang, yang pertama ditanya Ismuhadi padanya, “Apa kabar mamak pocut?”

Pocut endang terdiam bisu di hadapan Ismuhadi lalu mengeluarkan sebuah pemberian terbungkus kado. Ismuhadi membawa bungkusan itu ke kamarnya, lalu dibukanya pelan-pelan, isi kado tersebut sebuah buku berjudul “LA TAHZAN”. Begitu pula ketika Ismuhadi menelpon Cut Rita, anak tertua dari almh Cut Nurasikin, Ismuhadi selalu bilang, “Mamakmu masih hidup, tolong cari dia, minta tolong untuk bebaskan Ismuhadi.”

Cut Rita selalu meyakinkan; “Teungku Is, mamak sudah ga ada, kita harus ikhlas.” Lalu Ismuhadi menjawab, “Benar juga ya mamak sudah ga ada, seandainya masih ada mamak hari ini pasti Teungku Is sudah dibebaskan dari penjara,” ucap Ismuhadi pada anak tertua Cut Nurasikin itu.

Ismuhadi sangat menghormati dan mengagumi sosok Tjut Nurasikin, bagi Ismuhadi Tjut Nurasikin adalah jelmaan Tjut Nyak Dhien yang begitu gigih berjuang demi rakyat Aceh.

Ismuhadi berharap, semoga akan lahir kembali Tjut Nyak Dhien-Tjut Nyak Dhien junior yang ikhlas berjuang demi bangsanya, meskipun kini arena pertempuran telah berubah, bukan masanya lagi di zaman moderen ini berperang melawan penindasan dengan senapan dan senjata tajam, karena tak ada lagi musuh, tak ada lagi penjajahan dalam bentuk dan arti yang harfiah. Lebih lagi pasca penandatangan nota kesepahaman bersama MoU Helsinki antara pemerintah RI dan GAM.

“Sebelum Ajal, Izinkan Saya Menjabat Tangan Wali Nanggroe”
Kiriman antara Jeruji Baja, Tahun 2005. Setelah 5 tahun ­menja­lani hidup di penjara, jauh dari anak-anak dan isteri tercinta, Ismuhadi merasakan derita nan dalam, tak terlukis kata dan suara. Ia sadar kini, tidak ada tempat yang lebih buruk di dunia selain penjara. Harus hidup serba terbatas dan mesti bisa membawa diri di antara 4000 penghuni penjara dengan berbagai macam latar belakang dan kasus yang terkadang diwarnai kerusuhan antar geng.

Setiap waktu hatinya meronta dan menjerit, “Andaikan mungkin, sehari saja rasanya, jangan sampai mengalami hidup di penjara.” Namun ia menenagkan diri dengan mengenag penderitaan rakyat Aceh ketika DOM dan Darurat Militer, yang menurutnya, derita Aceh masa itu jauh lebih mengerikan, tidaklah berbanding dengan penderitaan yang dialaminya.

Dengan mengingat ingat penderitaan rakyat Aceh itulah, Ismuhadi ikhlas dan tabah menjalani kehidupan di penjara, bahkan masih mampu menyisihkan sedikit demi sedikit uang, lalu mengirimkan ke penjara lain seperti, Cirebon, Malang, dll. Kiriman itu untuk meringankan beban tapol/napol Aceh yang ditahan di sana.

Angin Salju Helsinki
2005 awal Agustus datang kabar gembira dari Ustad Muzakkir Hamid yang bermukim di Swedia mengabarkan akan ada perundingan dengan RI. sampai dimulainya perundingan itu, Ismuhadi masih terus mendapat kabar setiap malam tentang materi-materi yang akan disepakati bersama, termasuk point tentang amnesty. Seingat Ismuhadi, ada 4 point yang ada dalam draft perundingan namun tidak ada dalam MoU Helsinki yang ditandatangani 15 Agustus. Entah kenapa, wallahu ‘alam. Ismuhadi tak tahu kemana 4 point yang ada dalam draft tsb.

Menyaksikan penandatanganan MoU Helsinki dari televisi membuat Ismuhadi bersujud syukur. Kebasanpun terbayang di depan mata. Tak pernah Ismuhadi bayangkan akan mendekam di penjara hingga kini, apalagi satu persatu rekan Ismuhadi telah dipulangkan ke Aceh karena mendapatkan amnesty. Setelah ribuan tapol/napol GAM dipulangkan ke Aceh, lalu Ismuhadi mengontak Meuntroe Malik Mahmud di Swedia, Meuntroe minta data penghuni penjara yang belum menerima amnesty. Lalu Faisal Ridha dari SIRA dan isterinya bahu-membahu mengirimkan data mereka, Meuntroe berharap agar Ismuhadi dan kawan-kawan bersabar karena akan segera diurus. Setelah rombongan juru runding yang ditahan bebas dan berangkat ke Swedia menemui Wali Nanggroe.

Dijenguk Petinggi GAM dan Janji Dibebaskan
Saat pulang dari Swedia, perunding itu lansung ke Jakarta dan menyempatkan diri mengunjungi Ismuhadi. Yang berkunjung saat itu adalah Tgk.Nasruddin bin Ahmed, Almarhum Tgk.Muhammad Usman Lampoeh Awe, didampingi Muhammad Nazar dari SIRA. Ismuhadi san penjenguk itu bertemu sejenak, melepas meusyen. Pun di bulan Ramadhan itu mereka berpesan pada Ismuhadi agar sabar karena sebentar lagi Ismuhadi akan dibebaskan, lalu mereka pulang ke Aceh, meninggalkan Ismuhadi dan kawan-kawan dalam harapan besar. Kebebasan.

Setahun Janji Tak Ditepati
Tahun 2006, Ismuhadi dan kawan-kawan belum kunjung dibebaskan. Padahal jelas-jelas dalam dakwaan maupun tuntutan jaksa, Ismuhadi disebut sebagai Panglima GAM Wilayah Jabotabek. Dengan segala upaya Ismuhadi mencari tau apa gerangan yang terjadi di luar penjara hingga ia dan kawan-kawan belum dibebaskan. Ismuhadi lalu menghubungi Irwandi Yusuf, yang waktu itu sebagai perwakilan senior di AMM. Ia pun menghubungi Munawar Liza Zaenal.

Orang yang dihubungi tadi, meminta Ismuhadi mengirimkan data seluruh tapol/napol GAM yang belum mendapat amnesty. Seingat ismuhadi, waktu itu ada 114 orang yang tersisa di penjara Pulau Jawa dan Sumatera. Menurut Munawar Liza, dalam daftar usulan amnesty susulan, nama Ismuhadi ada di urutan pertama. Nama Irwan di urutan kedua lalu Ibrahim di urutan ketiga, dan seterusnya, berjumlah 114 orang.

Selamat, Sebentar Lagi Kamu Bebas
Ismuhadi dan kawan-kawan menanti dengan harap-harap cemas. lalu menerima kabar akan dibebaskan. Bahkan Kalapas Cipinang yang dijabat Pak Djoko Mardjo, waktu itu telah mencium Pipi Ismuhadi dan mengucapkan, “Selamat, sebentar lagi kamu akan bebas karena surat-suratnya sudah ada di meja Pak Menteri Hukum yang dijabat Hamid Awaluddin pada saat itu.

Ismuhadi menanti dan menanti namun tak kunjung bebas. Ismuhadi menghubungi Irwandi Yusuf dan Munawar Liza, kini Walikota Sabang, namun belum ada titik terang. Agustus 2006 menjelang peringatan 1 tahun MoU Helsinki, Tgk Zakaria Saman menelpon Ismuhadi dan memintany agar bersedia dipindahkan ke lapas di Wiliyah Aceh. Setelah terjadi perdebatan panjang, Ismuhadi bertanya, “Kenapa ada diskrimnasi .” Tgk Zakaria Saman menjawab pertanyaan itu dengan beberapa hal yang tidak dapat difahami Ismuhadi pahami. Namun akhirnya Ismuhadi setuju untuk pindah ke lapas Aceh, tapi belum juga dapat kepastian hingga memasuki akhir tahun 2006 lalu.

Teman di Kursi Kuasa, Ismuhadi di Balik Terali Baja
Satu persatu kawan di masa berjuang dan menderita bersama dahulunya kini menjadi pejabat penting di Aceh. Beragam suka dan duka di penjara; Ismuhadi mengaku, ada yang masih sangat tinggi kepeduliannya terhadap nasib ia dan temannya, seperti Pak Gubernur dan Pak Wagub juga Pak Walikota dan Pak Wakil Walikota Sabang.

Dilupakan oleh Orang yang Ditolong
Ada juga yang mulai memandang sebelah mata kepada Ismuhadi dan teman-teman di penjara. Bahkan ada seorang Wakil Bupati yang setiap Hari Sabtu ke tempat isteri mudanya di Jakarta, lalu mondar mandir di depan Penjara Cipinang.

“Mereka memang datang ke Jakarta, namun tak pernah mampir pada kami, ataupun sekedar melempar sebungkus nasi dari jalanan dan anggap saja nasi bungkus dilempar untuk anjing2 GAM yang masih di penjara,” jerit Ismuhadi, mengenang balasan temannya yang dulu untuk pulang ke Aceh pernah minta ongkos ke Ismuhadi di bengkel Krueng Baroe Motor. Ada juga seorang lagi yang kini jadi Wakil Bupati yang sering ke Jakarta, bahkan waktu kedatangan Wali Nanggroe ke daerahnya dia lebih memilih pergi ke Jakarta.

Di masa Darurat Militer, orang yang kini Wakil Bupati itu lari ke Jakarta, tinggal di Simpang Garuda, hampir tiap bulan datang ke Penjara Cipinang dan setiap ketemu Ismuhadi pasti dia selalu menangis. Lalu Ismuhadi bertanya;

“Kenapa Teungku menangis?” “Sewa rumah belum bayar dan beras habis,” jawab orang yang kini Wakil Bupati itu. Dengan penuh iba, Ismuhadi merogoh saku celana, mengambil uang lalu memberikan sama Tengku tersebut. Ismuhadi di penjara tapi masih peduli sama nasibnya, namun setelah kini menjadi Wakil Bupati tak pernah lagi kelihatan batang hidungnya. Kacang lupa kulitnya. Tak bisa balas budi.

Terima Surat Dipulangkan

Tahun 2007 Tanagal 15 Mei 2007, Ismuhadi menerima surat perintah akan dipulangkan ke Aceh. Bunyi suratnya antara lain “Sehubungan dengan perintah Bapak Dirjend Pemasyarakatan, bersama ini kami pindahkan tahanan yang diduga terlibat dengan Gerakan Aceh Merdeka, atas nama T. Ismuhadi Jafar… “ dan seterusnya.

Pukul 10.15, Ismuhadi dibawa meninggalkan Lapas Kelas 1 Cipinang menuju Lapas Kelas 2a Khusus Narkotika Jakarta, yang lokasinya hanya berjarak 1 Km dari lapas Kelas 1 Cipinang. Alasan petugas di sana, tempat transit dan pengumpulan selama menunggu Nurdin dari Nusa Kambangan dan Ibrahim dari Cirebon.

Sesampai Ismuhadi di lapas tersebut, sudah ada Irwan, menunggu sebagai tuan rumah yang juga akan dipulangkan ke Aceh. Lalu datang Nurdin dari Nusa Kambangan. Setelah shalat dzuhur, Ibrahim datang dari Cirebon. Jam 4 sore, Pak Wibowo Joko Harjono selaku Kalapas Klas 2A, memberikan ucapan selamat dan briefing.

“Tiket dan uang jalan sudah diurus pihak dirjend dan kita akan berangkat ke Aceh tangaal 16 Mei, pukul 04.00,” kata Kalapas itu.

Tampak wajah-berseri senang dan gembira. Terbayang akan dipulangkan ke kampung halaman. Hidup sebagaimana layaknya manusia akan Ismuhadi dan tema-teman alami kembali.Namun setelah hari H dan jam J, Ismuhadi dan teman-teman tak juga diberangkatkan ke Aceh.

Batal Dipulangkan
Keesokan harinya, Ismuhadi mendapat penjelasan dari kalapas memberitahukan, pemulangan ke Aceh dibatalkan oleh pemerintah. Bak langit runtuh atas bumi, tubuh Ismuhadi dan teman-teman terasa luruh ke tanah. lemas lunglai mendengar keterangan kalapas.

2 bulan setengah menunggu di Lapas Klas 2A, namun tak ada juga kepastia. Tanggal 31 Juli malam, sekira pukul 23.00, Ismuhadi dijemput dari sel tahanan, lalu dipindah kembali ke Lapas Klas 1 Cipinang, di mana 2 hari sebelumnya, pada 29 Juli, telah terjadi kerusuhan besar yang menewas 2 orang foreman starnya Cipinang.

Dikunjungi petinggi GAM, RI, dan Penengah Luar negeri ke 2
Pertengahan Agustus, Peudana Meuntroe Malek Mahmud dan Meuntroe Uroesan Luwa Nanggroe Zaini Abdullah didampingi Meuntroe Pertahanan Tgk.Zakaria Saman juga Hamid Awaluddin dan Juha Christensen beserta rombongan datang mengunjungi Ismuhadi di penjara Cipinang. Setelah lelah dipingpong ke sana kemari dengan dikunjungi jajaran petinggi GAM dan RI serta CMI tersebut, Ismuhadi seolah mendapatkan tenaga baru untuk terus bersabar mengikuti proses pembebasan yang dijanjikan.

Dikunjungi Petinggi GAM ke 3 Janji Dibebaskan Lagi
Tanggal 20 Agustus 2007, Panglima GAM Muzakkir Manaf datang bersama Jamaika, seorang ahli computer dan propaganda GAM selain Irwandi yusuf. Kunjungan Mualem ( sebutan GAM untuk Muzakkir Manaf) dan Jamaika melengkapi semangat yang dibawa para petinggi GAM. Lalu bulan Oktober dikunjungi oleh anggota dewan yang terhormat dari komisi A DPR Aceh, didampingi oleh Cut Fatma Dahlia (pengganti Cut Nurasikin di mata Ismuhadi) dan Iswadi Jamil dan rombongan dari FKTNA. Mereka pun berjanji akan segera menyurati presiden agar Ismuhadi dan teman-teman dapat dibebaskan.

Kerusuhan LP Cipinang
Malam menunggu pagi lalu pagi menunggu datangnya malam, di penjara terasa lambat sekali jam berputar, apalagi menganggur karena pasca kerusuhan per Agustus 2007, seluruh unit usaha dan warung diambil alih dan dimonopoli oleh Koperasi Pegawai Lapas Cipinang. Praktis Ismuhadi menganggur ditambah dengan beberapa kebijakan yang diubah pasca kerusuhan.

Dulunya setiap kamar diijinkan masak sendiri di kamar masing-masing, tapi kini, tak diperbolehkan lagi. Semua napi harus makan nasi cadong, tetapi bagi napi koruptor yang kaya bisa berlangganan dengan catering atau dikirim dari rumahnya masing-masing. Peraturan di penjara tambah ketat, tak dibolehkan keluar sel tanpa surat jalan. Setiap minggu, handphone dirazia petugas, bila ketemu, ya, resikonya handphone hilang, dan orangnya dimasukkan ke sel tikus. Tiada hari tanpa kecemasan, meski berat, kalender telah berganti bulan.

Dikunjungi Petinggi GAM ke 4, Minta Sabar
Pada tanggal 15 di bulan Desember 2007, kembali Ismuhadi dikunjungi oleh petinggi GAM, antara lain Peudana Meuntroe Malek Mahmud, Meuntroe Uroesan Luwa Nanggroe, dr. Zaini Abdullah, Meuntroe Uroesan Pheng, Almarhum Tgk.Muhammad Usman Lampoh Awe, Panglima GAM Muzakkir Manaf, Panglima Wilayah Pidie Abu Razak, Panglima Wilayah Batee Ieliek Tgk.Darwis Djeunieb, Tgk.Yahya Muad, Ibrahim KBS, TM.Nazar, Tgk.Ramli, Tgk.Irsyadi Panton Labu, Hamid Awaluddin, dan rombongan.

Tadi ismuhadi berfikir, kali ini akan pulang ke Aceh, karena begitu lengkap yang datang berkunjung, namun Ismuhadi harus kembali bersabar karena kedatangan para petinggi tersebut bukan untuk menjemput Ismuhadi, namun masih datang dan meminta Ismuhadi untuk bersabar lagi. “Insya Allah, uloen tuan saba jalani hudep loen tuan lam peunjara, bah pih kana MoU Helsinki,” jawab Ismuhadi dalam Bahasa Aceh yang sopan.

Setelah dikunjungi para petinggi itu lalu berpisah, Ismuhadi kembali dengan langkah gontai menuju kamar selnya yang pengab dan sempit.

Semua Tak Berkutik untuk Menolong Ismuhadi
Ismuhadi menjalani kehidupan di penjara dengan tabah dan sabar entah sampai kapan. Semua lini usaha pembebasan telah ia tempuh, namun belum membuahkan hasil, yang diyakininya semua adalah kehendak Sang Pencipta, pasti ada rahasia-Nya di balik semua kejadian, dan hanya orang-orang yang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian, yang akan mengetahui rahasia Allah SWT dan selalu bersyukur atas segala yang diterima. Ismuhadi yakin, yang terpenting adalah tak pernah berputus asa akan rahmat Allah, selalu berusaha, karena ikhtiar itu wajib hukumnya.

Kabar Hasan Tiro Pulang
Kini, setelah 8 tahun dipenjara, jauh dari sanak saudara dan kampung halaman, Ismuhadi mendengar bahwa Wali Nanggroe Tgk. Hasan di Tiro telah pulang mengunjungi Aceh, dengan seksama Ismuhadi mengikuti setiap pemberitaan di media massa, matanya berkaca-kaca menyaksikan tokoh idolanya turun dari tangga pesawat yang membawanya dari malaysia dan disambut oleh jutaan rakyat Aceh dengan wajah gembira.

Ismuhadi bergumam dalam hati, andai saja dia telah bebas pasti dia akan menjabat tangan wali yang dikaguminya sejak duduk di bangku SMP. Dia berdoa ‘semoga kedatangan Wali Nanggroe akan membawa kedamaian di bumi Aceh, meski dia tahu persis masih ada pihak-pihak yang tak ingin Aceh damai, maklum saja, kalau Belanda menyebut Aceh dengan sebutan “negeri sejuta perang”. Begitulah asa Ismuhadi dan kawan-kawannya sesama tapol/napol Aceh yang belum mendapatkan amnesty.

Ismuhadi tak sendiri di penjara, masih ada Irwan Tiro, masih ada Ibrahim Sawang yang dihukum sama dengan Ismuhadi, yaitu dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup. mereka semua memiliki keinginan dan harapan yang sama, ingin bebas.

Ingin Menjabat Tangan Hasan Tiro Sebelum Ajal
Tidak ada penyesalan di benak Ismuhadi atas semua yang menimpanya, yang ada hanya harapan ‘semoga Wali Nanggroe bersedia membebaskan Ismuhadi dan teman-teman, sebagaimana ribuan kawan-kawan seperjuangan lainnya, yang telah terlebih dahulu menghirup udara bebas, sesuai dengan isi MoU Helsinki. Ismuhadi bercita-cita, sebelum ajal datang menjemputnya, dia ingin berjabat tangan dengan Wali Nanggroe, Tgk.Hasan Muhammad di Tiro.

Airmata Tumpah Saat Dibesuk Si Buah Hati
Bagi Ismuhadi, hal terberat berada di penjara adalah ketika Tadashi Mulana dan Cahya Keumala datang membesuk. Setiap kedua buah hati itu diantar ke pintu portir karena jam bezoek telah habis, mereka selalu bertanya; “Ayah kapan pulang?” Tak mampu menjawab perntanyaan mereka, Ismuhadi hanya terdiam dengan kerongkongan terasa dicekik, nggak mampu mengeluarkan sepatah katapun.

Biasanya anak-anak melanjutkan; “kalo ayah udah pulang ke rumah, kan bisa anter jemput kami sekolah yah,” kata anak-anaknya dengan polos, tak mengerti ayahnya dihukum ‘seumur hidup harus berada di penjara. Untuk menghibur anak-anak, Ismuhadi selalu menutup dengan kalimat; Insya Allah ayah akan pulang, do’akan ayah, ya nak !” Serentak anak-anak mengangguk tanda setuju lalu pelan-pelan mereka melepaskan pelukan dan siap untuk kembali ke rumah.

Banyak juga di antara teman-teman yang dulu sama-sama berjuang namun kini telah lupa diri bahkan kalaupun datang ke Penjara Cipinang, hanya untuk menambah penderitaan Ismuhadi dengan kalimat-kalimat yang tak menghibur, contohnya; “Tengku tidak bisa diberikan amnesty karena Tengku tak mau mengaku GAM, dan Tengku dianggap terorrist.” Ismuhadi hanya mengurut dada mendengar tudinganitu. Ia pasrah apapun kata mereka, karena apa yang telah Ismuhadi sumbangkan untuk bangsanya yang tertindas bukan untuk orang per orang atau pribadi, tetapi Lillahi Ta’ala, demi bangsa dan rakyat serambi mekkah.

Lalu untuk menghibur diri, Ismuhadi menjawab pertanyaan penjenguk sinis itu, “Untuk apa mengaku-ngaku GAM, jika hanya untuk menjual GAM demi kepentingan pribadi...”

Begitu pula soal tudingan terorrist, orang-orang yang paham hukum pasti tau Ismuhadi dan teman-temannya ditangkap lalu dipenjara tahun 2000. Sementara undang-ungdang anti terorrist lahir tahun 2002, setelah tragedi kemanusiaan bom bali.

Ismuhadi berharap semoga orang-orang seperti tadi sadar dan belajar hokum. Ia mengharap sangat, semoga Pemerintah RI dan GAM benar-benar memiliki moral untuk mengimplementasikan pasal demi pasal dalam MoU Helsinki, termasuk butir tentang amnesty bagi sipapun yang terlibat dengan Gerakan Aceh Merdeka, baik lansung maupun tak lansung. Karena sangat jelas, di dalam Dakwaan dan Tuntutan agar Hakim Menjatuhkan Pidana Hukuman mati pada Ismuhadi, yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum Endang Rachwan,SH, di PN Jakarta Selatan, menyebutkan dengan tegas kalimat, “Teuku Ismuhadi adalah Panglima GAM untuk Wilayah Jakarta Bogor Tangerang Bekasi, yang bertugas menghubungkan anggota GAM di dalam negeri dengan GAM yang berada di luar negeri.

Akankah Ismuhadi mendapatkan amnesty atau dijadikan tumbal oleh penguasa? Semuanya berpulang pada penguasa pengurus pemerintahan, karena menurut Ismuhadi, “Seorang penguasa yang sedang memegang kekuasaan dapat melakukan apa saja, termasuk menjadikan siapa saja menjadi siapa saja.

Semoga tak ada lagi darah yang tumpah di bumi Serambi Mekkah, semoga tak akan ada lagi putera puteri terbaik bangsa yang dikorbankan demi kepentingan kekuasaan. Semoga tak ada lagi Ismuhadi, Irwan Tiro, Ibrahim Sawang lainnya yang mengalami nasib seperti mereka. Cukuplah mereka sebagai korban terakhir dari sebuah tirani. Ismuhadi merindukan Aceh, rindu ingin berenang dan mencari Ikan Keureulieng kembali di Krueng Keumala U Gadeng dan Krueng Tiro. Welcome Home The Highness, I’m so proud of you! [Editor Thayeb loh Angen]

Sumber : Harian Aceh - 12 Nov 2008