Friday, April 1, 2016

Cap Sikeureung Sultan Aceh yang terakhir.

Cap Sikeureung Sultan Aceh yang terakhir.

Setiap Sultan atau Sultanah (Ratu) yang memerintah di Aceh selalu menggunakan sebuah Cap resmi kesultanannya, yang didalam bahasa Aceh disebut Cab Sikureung (Cap Sembilan). Pemberian nama ini didasarkan kepada bentuk stempel itu sendiri yang mencantumkan nama sembilan orang Sultan dan nama Sultan yang sedang memerintah itu sendiri terdapat di tengah-tengah.



Cap Sikureung (Kulit luar) bermakna 9 Sultan :

1. Paling Atas
Sultan Ahmad Syah, yakni Raja pertama Dinasti Aceh-Bugis yang terakhir, 1723-1735, adalah Sultan yang ke-XX, sebelum tahun 1723 disebut  dengan gelar Maharadja Lela (Melayu)
2. Kanan Atas
Sultan Djauhan Syah, yakni Putera Raja sebelumnya, 1735-1760, adalah Sultan ke-XXI, bergelar Raja Muda
3. Paling Kanan
Sultan Mahmud Syah, yakni Muhammad atau Mahmoud Syah I, Cucu Sultan Ahmad Syah, 1760-1763, adalah Sultan ke-XXII
4. Kanan Bawah
Sultan Djauhar 'Alam, yakni Cicit laki-laki Sultan Ahmad Syah, 1795-1824, adalah Sultan ke-XXVII
5. Paling Bawah
Sultan Manshur Syah, yakni Putera Djauhar Alam, sekitar 1857-1870, adalah Sultan ke-XXVIII
6. Kiri Bawah
Sultan Said-al-Mukamal, yakni Alauddin al-Qahhar, 1530-1557, adalah Sultan Aceh ke-III
7. Paling Kiri
Sultan Meukuta Alam, yakni Sultan Iskandar Muda, 1607-1636, adalah Sultan Aceh ke-XI
8. Kiri Atas
Sultan Tadjul 'Alam, yakni Ratu Safiatuddin, Sultan wanita pertama Aceh, 1641-1675, adalah Sultan ke-XIII (Puteri Iskandar Muda)
9. Tengah
Waffaa-Allah Paduka Seri Sultan Alauddin muhammad Daud Syah Djohan Berdaulat zil-Allah fil'Alam, yakni adalah Sultan Muhammad Daud Syah, 1879-1903, Sultan Aceh yang terakhir.

Pada Segel-segel Sultan Aceh, tiga tempat diperuntukkan kepada raja-raja yang memerintah dari dinasti sebelumnya. Lima tempat diperuntukkan pada Raja-raja keluarga sendiri, dan yang satu dari yang 5 adalah raja pendiri dan dinastinya. Dan yang terletak di tengah-tengah yaitu Sultan atau Sultanah (Ratu) yang sedang memerintah. (Penjelasan Cap Sikureung ini berdasarkan stempel terakhir milik Kerajaan Aceh).

Sumber : DPR Aceh

Friday, March 18, 2016

Wisata ke pulau Weh ( sabang )

Wisata ke pulau Weh ( sabang )



Sabang merupakan kota kecil yang berada di Pulau Weh yaitu pulau yang berada di ujung paling barat Indonesia, Kota Sabang ini dapat dicapai dengan kapal ferry atau kapal cepat dari Banda Aceh, selain itu disini juga tersedia Bandara Maimun Saleh. Kota Sabang di Pulau Weh ini menawarkan beragam wisata bahari juga beberapa tempat peninggalan sejarah yang bisa anda nikmati, berikut ini tempat wisata di Sabang yang bisa anda kunjungi.

Bagaimana cara Menuju Ke sabang ??? 
Untuk mencapai Pulau Weh alternatifnya melalui jalur udara dan jalur laut.
Penerbangan via Garuda Indonesia setiap hari Rabu, Jum'at dan Minggu. Jadwal keberangkatan Sabang - Medan pada pukul 10:40 dan tiba pukul 12:10. Untuk keberangkatan Medan - Sabang pada pukul 08:50 dan tiba pada pukul 10:10.
Pelabuhan penyeberangan dari Banda Aceh adalah Ulee Lheu dan pelabuhan penyeberangan Sabang adalah Balohan. Ada 2 jenis angkutan jalur laut yaitu Kapal Motor Express dan Ferry.

Kapal Motor Express (lebih familiar dengan sebutan "kapal cepat") dioperasikan oleh pihak swasta dengan armada KM Bahari 3 dan KM Cantika 89, dengan jarak tempuh 45 menit. Kapal cepat hanya melayani penumpang saja.


Ferry (lebih familiar dengan sebutan "kapal lambat") dengan operator pihak ASDP melayani angkutan penumpang dan kendaraan dengan jarak tempuh ± 1,5 - 2 jam.

Jadwal Terbaru Keberangkatan/Kedatangan Kapal Penumpang Penyeberangan
Sabang - Banda Aceh (Pelabuhan Balohan - Ulee Lheue).
Kapal Ke Sabang
KM. EKSPRESS BAHARI 


PULO RUNDO


KMP.BRR


Sultan Ali Mughayat Syah

Sultan Ali Mughayat Syah

Sultan Ali Mughayat Syah

Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah adalah pendiri kerajaan dan sultan pertama kesultanan aceh yang memimpin aceh dari tahun 1514 sampai dengan beliau tutup usia yaitu pada tahun 1530.
Menurut yang saya abaca di artikel wikipedia , mulai tahun 1520 Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah memulai kampanye militer untuk menguasai bagian utara Sumatra. kampanye pertamnaya adalah  Daya, disebelah barat laut yang menurut Tome Pires belum mengenal Islam. Selanjutnya Pasukan tersebut melanjutkan pertempurannya kewilayah pantai timur. sebagaimana kita ketahui pada saat itu di bagian pantai timur memiliki banyak rempah-rempah dan emas. dan pada saat itu juga Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah membangun pelabuhan-pelabuhan untuk meningkatkan perekonomian rakyat dan juga untuk kekuatan militer laut.
Adapun selanjutnya, Deli dan Aru merupakan target utama untuk melakukan penyerangan untuk memperluas kekuasaan , penyerangan ini merupakan penyerangan terakhir yang dilakukan oleh Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah untuk memperluas daerahnya. Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah juga mampu mengusir garnisun portugis yang sudah merajalela di kawasan Pedir (Pidie) dan Pasai. kemudian pada tahun 1824 pasukan Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah menyerang Aru, namun usaha sultan gagal, karena berhasil dikalahkan oleh armada portugis. Selain mengancam portugis sebagai pemilik kekuasaan laut pada saat itu. pasukan Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah juga mengancam kesultanan johor yang juga sebagai kekuatan militer laut di kawasan itu. Pada tahun 1521 kesultanan aceh diperluas sampai ke pidie , dan pada tahun 1524 ke pasai dan aru, kemunidan menyusul perlak, tamiang dan lamuri. kesultanan aceh Darussalam merupakan kelanjutan dari kesultanan samudra pasai yang hancur pada abad ke 14.
Ada beberapa versi sejarah lain yang menyebutkan terbentuknya kerajaan Aceh Darussalam. menurut hikayat aceh yang saya kutip dari buku Aceh sepanjang Abad menyebutkan aceh Darussalam adalah persatuan dua kerajaan yang masing-masing dipimpin oleh sultan muzaffar syah dari pidie dan raja inayat syah dari aceh besar , mereka itu merupakan 2 bersaudara. suatu saat pecah peperangan antara keduanya, dan dimenangi oleh muzaffar syah yang berasal dari pidie, akhirnya dia menyatukan pidie dan aceh besar. lantas demikian dia memberinya nama Aceh Darussalam.
Ajidar matsyah menyebutkan dalam Bukunya, Jatuh Bangun Kerajaan islam di Aceh,  bahwa kesultanan aceh Darussalam membawakan enam kerajaan islam kecil, kerajaan-kerajaan itu antara lain : kerajaan perlak, kerajaan samudra pasai, kerajaan tamiang, kerajaan pidie, kerajaan indrapura, dan kerajaan indrajaya. kitab bustanus salitin, kitab kronik raja-raja aceh, menyebut sultan ali mughayat syah sebagai sultan aceh yang pertama. ia mendirikan kesultanan aceh dengan menyatukan kerajaan-kerajaan kecil tersebut. pusat kesultanan aceh Darussalam adalah kuta raja yang sekarang sering di sebut dengan kota banda aceh, banda aceh memiliki Bandar niaga yang besar karena mempunyai pelabuhan yang bisa merapatnya kapal-kapal besar pada saat itu tepatnya pada abad ke 16. pelabuhan banda aceh mudah dirapati oleh berbagai jenis kapal dagang. maka oleh sebab itulah aceh semakin ramai, apalagi sejak malaka jatuh ke tangan portugis,   para saudagar-sudagar muslim lebih memilih berlabuh ke pelabuhan banda aceh. tak hanya pedagang muslim, pedagang asing non portugis juga ikut berlabuh ke pelabuhan banda aceh, sehingga kesultanan aceh mempunyai banyak keuntungan pada masa itu.
sumber : http://aneukgeureugok.blogspot.co.id/2015/04/sultan-ali-mughayat-syah.html